Di saat kecelakaan maut yang terjadi di Tugu Tani Jakarta masih menyisakan luka mendalam, aktivis wanita asal Saudi yang dikenal dengan seruannya pada anti pelarangan wanita mengemudi, tewas ketika naik mobil.
Dialah Manal Al-Syarif (foto atas), seorang akademisi wanita Saudi jebolan Universitas Amerika. Manal pernah nekat mengendarai kendaraan pribadinya di tengah Kota Khobar sebagai protes atas kebijakan larangan mengendarai mobil bagi wanita di negaranya. Praktis, tindakannya itu mengundang pihak keamanan untuk mengamankannya selama 10 hari pada Mei 2011 lalu.
Masalah menyetir mobil bagi kaum hawa memang menjadi polemik hangat di Arab Saudi, antara yang pro dan kontra. Hingga kini pemerintah secara resmi masih melarang kaum wanita menyetir kendaraan. Namun, di sisi lain tuntutan untuk menghapuskan ketentuan tersebut tidak pernah berhenti. Meskipun masalah ini sering timbul tenggelam, namun tampaknya semakin ke sini, tuntutannya semakin kuat seiring dengan semakin kuatnya tuntutan kaum wanita Saudi agar peran mereka di tengah masyarakat semakin diakui.
Ironisnya, Manal, salah satu aktivis yang menuntut penghapusan larangan itu tewas akibat kecelakaan saat sedang menumpang mobil yang dikendarai temannya yang juga seorang wanita. Dalam insiden naas itu, Manal tewas di lokasi kejadian, sedangkan sang pengemudi mengalami luka berat dan segera dilarikan ke rumah sakit. “Seorang wanita tewas di tempat dan satu orang lagi segera dilarikan di rumah sakit karena mengalami luka yang cukup parah,” ujar juru bicara kepolisian, Abdulaziz Al-Zunaidi seperti dilansir AFP.
Januari dan Angka 11
Jauh di bawah hujan Januari
Kuminta senja tiada mengubur matahari
Hingga setiap jengkal nafas kurasai
Seluruh musim terempas sunyiYa, sudah Januari lagi dan aku telat posting tentang persiapan menyambut tahun baru. Bicara soal tahun baru, biasanya banyak yang menggumamkan soal resolusi di tahun yang akan dihadapi ke depan. Kenapa begitu? Kenapa mesti di momen tahun baru? Kenapa tidak beresolusi setiap hari? Sudahlah, yang pasti aku suka hujan di bulan Januari. Read the rest of this entry
Dia Rindukan Pemimpin Adil
Aku terlambat datang ke lokasi kegiatan pemberian bantuan itu. Hmm… sejujurnya, sebuah kesengajaan untuk tidak datang terlalu pagi hanya untuk’mengembangkan sayap si tuan besar’ yang sedang mencari muka ke masyarakat (Ya, aku akui…aku muak dengan mereka yang mencari-cari media hanya untuk dijadikan ruang mengembangkan senyum!). Tapi, ternyata tidak terlalu terlambat seperti yang aku duga. Bersama rekanku dari kantor berita Antara, aku masih diberi kesempatan untuk mendekat dan sedikit wawancara dengan beliau. “Bla bla bla…,” sang raja mengumbar apa yang sudah dia kerjakan di pagi itu. Begitulah. Aku tidak begitu yakin, berita ceremony seperti ini akan kuterbitkan esok hari.
Selepas liputan, aku langsung menuju ke pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) tepat di seberang lokasi kegiatan (Lupakan dulu tokoh kita yang itu
). Bukan sebuah kebetulan, hari itu tidak terlalu terik, suasana yang pas untuk mengambil gambar Jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Di pelataran BKB itu, aku berjumpa dengannya. Saat itu, dia sedang bersama rekan-rekannya sesama serang (pengemudi perahu kecil). Read the rest of this entry

