Berawal dari info tentang adanya suatu acara diskusi pada suatu momen. Aku dan teman-teman menyediakan waktu untuk hadir di acara yang katanya akan diisi oleh seorang rekan seprofesi kami tersebut.
Konsep acaranya menarik karena ada pemutaran film terlebih dahulu sebagai bahan diskusinya. Tapi sangat disayangkan, pemutaran dua film dengan beda tema tidak dapat mempertahankan mereka yang hadir untuk tetap di sana sampai acara diskusi dimulai. Terbukti, pada pemutaran film kedua yang memang cukup berat membuat beberapa yang hadir ‘bergelimpangan’ dari posisi duduk manis ke posisi yang beraneka rupa. Hingga puncaknya, pengunjung usia remaja menghilang sebelum film berakhir.
Acara diskusi pun dimulai. Begitu serunya sampai kami tidak menyadari ada mbak Lola Amaria hadir di sana. Ya, beliau akan jadi pembicara di season esok harinya. Aku tidak akan membicarakan esensi dari diskusi kami. Hanya ingin share bahwa komunitas yang kudatangi ini ‘berbeda’! Yup, kebanyakan mereka adalah penyuka seni dan pecinta kebebasan. Tidak heran, jika saat diskusi berlangsung, sebagian mereka dengan santainya menghisap ROKOK. Laki-laki dan perempuan!
Mungkin bagi sebagian rekan, perempuan merokok itu biasa. Sementara aku dan teman-temanku tidak! Meski demikian, kami coba bertahan di sana karena diskusi memang sangat menarik dan teman-teman baru ini sangat smart dan mau menerima pendapat. Pastinya, interaksi dengan komunitas seperti ini bukan berarti kami harus meninggalkan nilai yang kami pegang.
ilustrasi : @phenbandel (tengkyu, pen
)




'Ne
sepakat, berbaur tak selalu harus melebur. saling menghargai saja. dan tidak semua hal bisa kita ikuti atau tiru
salam..
bensdoing
kalo sya udah keluar tuh mb…karena mmg sya tidak suka dengan bau asap rokok apalagi kalo melihat cweknya juga ikutan merokok….
jayireng
Haha
Jay jg gak bisa jauh dri rokok nih Lia
мυнαмαđ яoмđoиι
Waahhh roko hidup saya ibarat kata….
udah pernah berenti cuma kuat dari pagi ampe siang doang akakakka
Pakies (@pakiess)
Susahnya jika harus berinteraksi dngan komunitas yang seperti itu, karena membutuhkan ‘kekuatan diri’ agar bisa menempatkan diri yang tepat serta sewajarnya. Ibarat ikan, biarpun berenang tapi dia nggak pernah mati karena air. Malah jika bisa, kita menunjukkan perilaku yang santun pada mereka agar mereka bisa menyadari bahwa kita sesungguhnya tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu.
puchsukahujan
wew, komunitas apa tuh mbak? sesama penulis yah? keren dong, beraneka warna
kontraktor bangunan
salam kenal dan tetap semangat yaa…:)
retnotirtoarum
hmmm.. bener… aku juga masih belum terbiasa melihat pemandangan perempuan dan rokok. dan setuju banget kalo kita bisa berbaur tanpa harus melebur.
accel world
saya tidak suka membaur atau melebur. tidak perlu membaur untuk bisa survive
jaka
benar sekali berbaur tanpa harus melebur,, hehe,, sangat bernilai kalimatnya,
sunarno2010
berbaur tanpa melebur, waktu KKN dulu saya sukses tak melebur turut mencicipi rokok padahal sudah menjadi rahasia umum sebagian besar mahasiswa yang KKN di gunung akan sangat mudah turut mencicipi rokok karena salah satu goyonannya menyindir bagi yang tak suka merokok bahkan rokok dianggap sebagai salah satu simbol pergaulan di masyarakat