Kupu-Kupu Pengemudi Wanita

Di saat kecelakaan maut yang terjadi di Tugu Tani Jakarta masih menyisakan luka mendalam, aktivis wanita asal Saudi yang dikenal dengan seruannya pada anti pelarangan wanita mengemudi, tewas ketika naik mobil. Continue reading

Januari dan Angka 11

Jauh di bawah hujan Januari
Kuminta senja tiada mengubur matahari
Hingga setiap jengkal nafas kurasai
Seluruh musim terempas sunyi

Ya, sudah Januari lagi dan aku telat posting tentang persiapan menyambut tahun baru. Bicara soal tahun baru, biasanya banyak yang menggumamkan soal resolusi di tahun yang akan dihadapi ke depan. Kenapa begitu? Kenapa mesti di momen tahun baru? Kenapa tidak beresolusi setiap hari? Sudahlah, yang pasti aku suka hujan di bulan Januari. Continue reading

Dia Rindukan Pemimpin Adil

Aku terlambat datang ke lokasi kegiatan pemberian bantuan itu. Hmm… sejujurnya, sebuah kesengajaan untuk tidak datang terlalu pagi hanya untuk’mengembangkan sayap si tuan besar’ yang sedang mencari muka ke masyarakat (Ya, aku akui…aku muak dengan mereka yang mencari-cari media hanya untuk dijadikan ruang mengembangkan senyum!). Tapi, ternyata tidak terlalu terlambat seperti yang aku duga. Bersama rekanku dari kantor berita Antara, aku masih diberi kesempatan untuk mendekat dan sedikit wawancara dengan beliau. “Bla bla bla…,” sang raja mengumbar apa yang sudah dia kerjakan di pagi itu. Begitulah. Aku tidak begitu yakin, berita ceremony seperti ini akan kuterbitkan esok hari.

Selepas liputan, aku langsung menuju ke pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) tepat di seberang lokasi kegiatan (Lupakan dulu tokoh kita yang itu :D ). Bukan sebuah kebetulan, hari itu tidak terlalu terik, suasana yang pas untuk mengambil gambar Jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Di pelataran BKB itu, aku berjumpa dengannya. Saat itu, dia sedang bersama rekan-rekannya sesama serang (pengemudi perahu kecil). Continue reading

Senyum Sang Wasit

For our Mr. SMILE -the best referee- in Sea Games!!! :D

Apa sulitnya tersenyum? Mr. Kim Jong Hyeok saja betah tersenyum selama memimpin pertandingan di lapangan hijau. Bahkan di saat mengeluarkan kartu merah pun, wasit asal Korea Selatan ini tetap tersenyum ramah kepada sang pemain.

Dengan dukungan senyumnya pula, Indonesia bisa masuk ke final SEA Games XXVI setelah memetik kemenangan 2-0 melawan Vietnam, Sabtu (19/11). Owhh… sesuatu banget :D :D

*Jangan terlalu serius, Lia! Mari senyum =)

Kenangan Sekolah (PR)

Dapat lemparan PR dari Adia , si blogger cerdas tetangga sebelah, untuk berbagi kenangan masa-masa sekolah, khususnya SD. Aahh… jadi ingat dengan kebodohan dan kepolosanku di bangku sekolah. Lucu kalau dikenang :D

Jam dinding yang menunjukkan pukul 06.20 wib pagi, selalu mengingatkanku pada masa-masa sibuk jiaaah untuk berangkat sekolah. Uuuuupss… jam segitu belum berangkat sekolah? Ya, sejak SD hingga SMA, lokasi sekolahku memang tidak terlalu jauh dari rumah. Jadi, kalau berangkat sekolah agak-agak siang ga masalah (= Kalau pun ternyata terlambat, kedatanganku yang sudah ngos-ngosan karena berlari mengejar deritan akhir gerbang sekolah, tidak membuat para guru memberi hukuman. Ehmm… seingatku sih begitu :D

Guru Favorit
Ada satu guru di SD yang benar-benar kutakuti karena sering memberi hukuman di kelas. Namanya Ibu Ima, wali kelasku di kelas 3 SD Muhammadiyah 6 Palembang. Sosoknya yang muda dan energik menuntut semua hal harus sempurna, bahkan untuk hal-hal kecil seperti meletakkan sepatu dengan benar di rak (saat itu, kami harus menjaga kebersihan kelas dengan membuka sepatu sepanjang pelajaran :D ). Meski begitu, beliau ini termasuk guru favoritku juga selama SD karena cerdas dan cantiknya. Continue reading

30 Hari Menulis Novel?


Setelah ‘dikompori’ oleh Mbak Di, akhirnya aku coba untuk sign up di Nanowrimo pada awal November lalu.

Nanowrimo Itu Apa?
Katanya, Nanowrimo adalah singkatan dari National Novel Writing Month yang bukan sekedar jejaring sosial biasa. Nanowrimo ini semacam forum untuk bertemu dengan rekan-rekan yang mempunyai target yang sama untuk menulis novel dalam 30 hari. Uwow! Hanya 30 Hari? Sanggup ga ya??

Memang tidak ada penghargaan resmi atau hadiah Ipad baru jika telah berhasil menyelesaikan novel dalam 30 hari. Tapi katanya, dengan bergabung di sana kita akan mendapatkan motivasi untuk menulis. Sebab, Nanowrimo membantu kita lebih disiplin, hal yang sangat penting kalau kita ingin serius. Selain itu, dengan berhubungan langsung dengan rekan sesama penulis, kita juga akan mendapatkan jaringan penulis yang lebih luas. Siapa tahu dapat kenalan dari penerbit lebih banyak! Owh… sesuatu banget! :D

Ssssttt… Aku dapat ‘bocoran’ strategi menulis perhari untuk mendapatkan 50.000 kata selama 30 hari. Sebenarnya 50.000 kata itu tidak terlalu banyak, mungkin sekitar 150 halaman. Memang tidak sedikit juga ya. hehe. Katanya, agar beban menulis tidak terlalu berat, kita cukup mengetik sekitar 1.667 kata per hari. Sehingga, pada hari ke-30, bisa saja kita akan mendapatkan 50.000 kata.

Nah, hari ini sudah masuk hari ke-17.Ternyata, strategi yang diberikan tersebut tidak berjalan sempurna. Bukan karena salah perhitungan. Bukan!!! Tapi, karena aku memang belum ada waktu spesial untuk menyelesaikannya dengan serius. Haiiihhh alasan! :D :D Sekedar share, dalam sehari aku bisa menulis sebanyak 7500 – 9000 kata. Tapi, yang aku tulis adalah tipe straight news yang sudah ada datanya. Tentu beda dengan novel yang bahasanya lebih nyastra dan tidak baku. Alasan lagi!!! :D

Untuk teman-teman yang sudah pernah gabung di sana, bisa dong share gimana serunya ya… atau kalau ada yang mau mulai bergabung, mungkin masih diberi kesempatan meski waktu yang diberikan sudah berkurang 17 hari. Selamat mencoba!

Cerita Lain di Balik SEA Games

Kota yang Bersahabat, Katanya!

Sejak menjadi tuan rumah SEA Games XXVI, kota kelahiranku Palembang, kini menjadi sorotan dunia. Tidak terkecuali para peneliti seperti Dr.Simon Creak dari Hakubi Center Universitas Kyoto :D
Professor asal Australia ini mengatakan, kedatangannya ke Kota Palembang bertujuan untuk melihat dampak dari kemeriahan perhelatan pesta olahraga se-Asia Tenggara tersebut bagi masyarakat lokal. Meskipun ini kedatangan pertamanya ke Palembang, dia mengakui sudah melihat Palembang sebagai kota yang berkembang dan modern. Untuk meneliti lebih jauh perkembangan pembangunan dari dampak pelaksanaan SEA Games tersebut, Creak menyebarkan pertanyaan kepada semua orang yang ditemui, mulai dari pihak pemerintah hingga masyarakat luas. Hasilnya, nanti akan ia coba bukukan secara internasional. “Saya ingin mengetahui sekali apakah masyarakat Palembang gembira dan merasakan perkembangan kotanya dengan adanya gelaran SEA Games. Tapi, saya akui, Palembang memang kota yang sudah berkembang dan bersahabat,” katanya.