Uniknyaaa…. halte-halte ini dibuat dengan desain yang menarik. Kalau sudah begitu, waktu menunggu pasti tidak akan membosankan. Inspiring
“Mbak, maaf nak tanyo, kalau ke PS translate di halte transmusi mano yo?”
Ehh… ada yang salah kayaknya!
Transiiiit, Mbak…
bukan translate!
Ya, sudah satu tahun ini Bus Transmusi beroperasi di kota kelahiranku, Palembang. Dari pengamatanku, jenis angkutan umum yang satu ini mempunyai konsep yang hampir sama dengan transjakarta. Hanya saja tidak ada jalur khusus anti macet seperti di ibukota. Tapi, dipastikan Bus Rapid Transit (BRT) ini bisa menjadi salah satu cara mengatasi masalah transportasi publik di kota pempek. Ditambah pula sudah ada tiga koridor baru Transmusi yang diluncurkan pada peringatan satu tahunnya, yakni koridor 3 (Jakabaring-Palembang Square Mall), koridor 4 (Plaju-Terminal Karya Jaya), dan koridor 5 (Bandara- Alang-Alang Lebar).
Apakah transmusi sudah memberikan pelayanan terbaiknya dalam setahun beroperasi? Pemerintah kota tampaknya berusaha untuk itu. Tapi jika dicermati, masih banyak pelayanan yang belum memadai, khususnya halte! Inginnya halte Transmusi itu terjaga, baik dari keamanan, kebersihan, maupun keawetannya. Senin (2/5) malam lalu bahkan ada halte yang roboh karena angin kencang.
Terlebih lagi halte transitnya. (Owhh ya, kita kembali ke topik transit, bukan translate
) Pernah aku bingung saat pertama harus transit dari koridor 4 ke koridor 3. Berbeda dengan halte transit Transjakarta yang mempunyai jembatan, di halte transit Transmusi untuk koridor ini kita harus ke luar halte dan menyeberang jalan raya. Tidak aman tentu saja. Meskipun halte sudah dipercantik dengan warna cat yang cerah, tapi tetap saja rasanya tidak nyaman. Ehmm… tapi kalau dibandingkan dengan halte transit Transjakarta, tidak nyamannya juga sih. Jembatan transit transjakarta yang pernah kunaiki itu memanjang bak ular di tengah kota hehe Continue reading
PR dari postingan kemarin adalah menuliskan tugas dari award yang kudapatkan. Tugasnya adalah menuliskan delapan hal tentang diriku dan membaginya kepada delapan blogger (narablog) lainnya. Yuks… mulai!
1. Aku lebih suka dipanggil Lia. Cerita serunya baca di sini.
2. Di dalam keluarga, aku anak bungsu dari lima bersaudara. Keempat saudaraku sudah berkeluarga dan memiliki jundi-jundi lucu. Saat ini, aku sudah memiliki delapan keponakan. Menariknya, keponakanku yang perempuan, semua berinisial N. Hingga suatu hari, kami kumpulkan mereka untuk berfoto bersama, inilah hasilnya:

3. Aku belum pernah naik unta *ga penting!
Continue reading
Akhir-akhir ini, banyak blogger yang menulis delapan hal tentang dirinya. Layaknya blogger pada umumnya yang senang berbagi, mereka menulisnya dengan riang gembira dan tanpa pamrih. Upps… ternyata tidak seperti yang kukira. Di balik delapan kisah tentang diri itu ada hadiah yang sudah mereka terima.
Ya, award inilah penyebabnya! Kenapa bisa begitu? Kenapa pula namanya harus Stylish Blogger Award? Jujur, aku cuma bisa angkat bahu. Yang kutahu, mereka yang mendapat penghargaan antar blogger ini harus berbagi tentang delapan hal mengenai diri mereka. Itu saja? Tentu saja tidak! Mereka pun harus membaginya ke delapan blogger lain. Jadi, tidak mengherankan jika award yang satu ini sudah beredar di kalangan para blogger, termasuk anda (mungkin).
Menarikkah? Aku meyakinkan permainan seperti ini sangat menarik bahkan bisa menjadi dorongan untuk mereka yang mulai kehilangan ide menulis di blog. Itulah mungkin yang terjadi padaku
Award ini ‘memaksaku’ untuk menulis tentang delapan hal tentang siapa aku. Perlu diketahui, tersangka yang sudah baik hati melemparkan Stylish Blogger Award ini tidak hanya seorang blogger, tapi tiga blogger! Aku ucapkan terima kasih untuk ketiganya, Teh Ika si langit11, Galuh Blodsone, dan Dida. Tropinya aku terima.
Oke, 8 things about me itu haruskah ditulis? Kenapa harus ditulis? Kenapa harus berpoin hingga delapan? Kenapa… Kenapa… (biar panjang dikit hihihihi). Mau dapat award ini juga? Tunggu di postingan berikutnya
Mahira menghela nafas panjang. Dia mencoba mengatur posisi duduk agar lebih nyaman. Diliriknya jam tangan mungil di tangannya, sudah pukul 07.25! Sudah satu jam lebih dia berada di bis ini. Lebih lama dari hari biasanya.
Mahira mulai memikirkan, sampai kapan rutinitas pagi yang tidak sehat itu harus ia jalani. Selepas shalat subuh dia harus bergegas berangkat ke tempat kerjanya yang terletak di tengah kota Jakarta. Rumahnya sendiri berlokasi di daerah Depok. Bayangkan saja, sarapan pagi pun terkadang dia lakukan di dalam kendaraan. Beruntung dia belum berkeluarga dan mempunyai anak. Continue reading
Mesir…
Aku mengenalimu sejak di bangku kuliah. Mulai dari diktat yang diwajibkan dosen untuk kutelusuri hingga novel-novel karya penulis muda muslim yang menghibur.
Continue reading






