Berburu Kuliner Tradisional Palembang

//Festival Sriwijaya XXV

Berburu Kuliner Tradisional Palembang

Kue suri, engkak ketan, bluder, ataupun golenak, bisa jadi tidak dikenal akrab oleh masyarakat Palembang saat ini lantaran jarang dibuat dan dijual. Namun, kue-kue tradisional khas kotaku ini bisa ditemui di Festival Kuliner dalam rangkaian acara Festival Sriwijaya XXV di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) pada 22 – 24 Juli 2016.

DSC_0442

Salah satu kedai yang menyajikan kuliner khas kota ini yakni Kedai Uchu Juadah Bae. Sesuai dengan namanya, kedai yang satu ini menawarkan aneka kudapan yang dalam bahasa Palembang disebut juadah. Tidak sedikit pengunjung festival mendatangi stand Juandah yang terlihat apik dengan aneka kue. Apalagi sang pemilik memasak live di tempat sehingga menarik minat untuk dikunjungi.

Pemilik kedai, Sandi Ardiko mengatakan, dia dan keluarga yang memang keturunan wong kito berani menawarkan kue-kue tradisional yang sudah jarang ditemukan. Dia mengaku tidak ada resep rahasia keluarga dalam membuat kue-kue tersebut. Menariknya, makanan-makanan tersebut dimasak dengan divariasikan dengan bahan baru yang lebih mengena pada lidah masa kini.

“Untuk Lapis kojo saya buat dengan modifikasi dengan lapisan cokelat, jadi produk kuenya disebut dadar kojo lapis cokelat, adapula bingka singkong yang dicampur dengan almond. Dengan rasa baru seperti ini diharapkan bisa dikenal dan tetap disukai generasi sekarang, meski pada dasarnya ini makanan tradisional,”ungkap Sandi Ardiko dibincangi di stan Juadah-nya.

DSC_0467

Dijelaskannya, orang Palembang sejak dulu memang senang menjamu tamu dengan aneka kue. Umumnya, kudapan khas Palembang terbuat dari telur dengan rasa manis. Hal ini menurutnya membuktikan bahwa selera makanan Palembang tidak melulu pedas dan berkuah. “Ini tahun pertama saya mengikuti festival kuliner. Padahal saya sudah menjalani bisnis ini sejak lama, dengan sajian makanan yang saya coba dengan otodidak,”terang dia.

Di festival yang sama, pengunjung juga bisa menemukan sajian khas Palembang lainnya di stand Kedai Harum. Pemilik kedai, Mardo Tilla mengatakan, dia memang mengusung makanan Palembang Tempo Dulu dalam sajian kedainya yang sudah berjalan dua tahun terakhir. Kedai Harum sendiri bisa didatangi di Jalan Merdeka Palembang. “Festival ini patut digelar rutin. Sebab tidak sedikit masyarakat Palembang sendiri tidak tahu makanan tradisionalnya, seperti kue suri, ragit, ataupun pempek tabok,”ucapnya.

DSC_0444

Menurut anggota Dewan Adat Palembang, Ali Hanafiah, kudapan Palembang secara adat hanya dihidangkan di momen-momen istimewa, seperti  acara munggahan. Istilah munggah sendiri merupakan puncak seremoni pernikahan Palembang. Meskipun dalam satu acara yang sama, kue-kue ini pun disajikan dalam waktu yang berbeda.

Namun dia menilai, aturan budaya ‘ngidang’ sudah tidak dijalankan lagi. Siapa saja bisa menikmati kue apapun kapanpun. Seiring perkembangan zaman pula, kuliner yang ada sudah mulai berganti nama ataupun divariasikan rupanya. “Saya optimis kuliner Palembang tetap lestari meskipun dikembangkan sedemikian rupa dan rasa,”tuturnya. yulia savitri/sikupu.wordpress.com

 

 

 

Continue reading

Prihatin Asap, Kelabu di Kotaku

ASAP ii

Selamat datang di Palembang, kawan. Silahkan jumpai hal-hal menarik di sini.

Sebelumnya, kau harus tahu, kelabu di kotaku bukan karena mendung menggelayuti langit. Itu pekatnya kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan. Sudah dua bulan terakhir warga kehilangan udara segar. Bisa kau rasakan tidak nyamannya menghirup udara bercampur asap setiap hari. Continue reading

Ini Trip Ke Dieng

“Seasyik-asyiknya teman sendiri, pasti ada perbedaan dalam selera jalan-jalan.” (Trinity)

Jelang akhir tahun, pengajuan cuti kantor mulai mengantri. Kesempatanku untuk cuti bisa kudapat mulai 27 – 31 Agustus lalu. Sebuah kebetulan, teman yang hobi traveling menginformasikan adanya Dieng Culture Festival pada 30-31 Agustus 2014, dan ngajak jalan-jalan ke sana. Dieng? Dataran tertinggi di Jawa itu? Jadi, penasaran. Continue reading

Wonderful Indonesia: Uniknya Kerajinan Khas Raja Ampat

Saya terkagum-kagum jika melihat eksotisnya wisata laut Raja Ampat dari televisi maupun internet. Pemandangan lautnya yang menakjubkan sangat pantas jika Raja Ampat menjadi destinasi wisata pilihan dunia. Jadi pengen ke sana.

IMG_7152

Indahnya alam Raja Ampat_Indonesia.travel

Rasa penasaran itu sedikit terobati ketika melihat secara langsung hasil kerajinan tangan khas Raja Ampat yang dipamerkan di South Sumatera Expo 2014 di Palembang, Mei lalu. Masyarakat Raja Ampat ternyata memanfaatkan dengan baik kekayaan alam daerahnya untuk dijadikan barang-barang unik. Continue reading

Pesan Ramadhan

ramadan-kareem-wallpapers-20

Ada beberapa agenda besar yang menjadi pusat perhatian semua kalangan selama bulan puasa di tahun 2014. Diantaranya adalah Piala Dunia di Brazil dan Pemilihan Presiden 9 Juli. Percaya atau tidak, agenda-agenda ini cukup mempengaruhi perjalanan muslim dalam menunaikan ibadah puasanya. Continue reading

Kenapa Golput?

Seorang teman sangat pesimis dengan pileg dan pilpres tahun ini. Dia yakin, keadaan tidak akan berubah bila jarinya bertinta biru. “Bakal masih cak lamo tu la,”tukas dia dengan logat Palembang.

Lantas, siapa yang bisa mengubah keadaan menurut dia? Tidak ada kecuali Iwan Fals. Dia ingin penyanyi lagu ‘Bento’ itu jadi calon presiden! Bukan main-main dia menyatakan itu. Saya yakin ada dasar kekecewaan pada kinerja para wakil rakyat dalam argumennya.

Benarlah apa yang dituliskan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwon dalam tulisan kolomnya di Koran Sindo pada Minggu (13/4). Dia menegaskan, bangsa ini memerlukan manusia setengah dewa seperti lagunya Iwan Fals. Wakil rakyat yang dicari itu mesti berakhlak dan bermoral tinggi sehingga dia berani menegakkan peraturan, berani melawan siapa saja yang melanggar peraturan, termasuk yang mengatasnamakan akhlak dan moral itu sendiri.

Tapi menurutku, kalau tidak memilih sama sekali seperti yang temanku lakukan, justru sosok yang dicari tidak akan pernah ketemu. Terlepas buruknya elektabilitas partai yang diusung, kalau pilihan sosok yang ada memang bervisi jelas dan baik untuk masa depan, why not? Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

“Haha… terserah, pastinya aku bersyukur tidak harus ikut bertanggung jawab pada rusaknya negara ini,”tandas dia.

Hhmm… angkat tangan deh.

 

 

Ini Event Kolektif Komunitas

Apa jadinya kalau komunitas-komunitas independen bergabung dalam satu gelaran acara? Menarik, tentu saja. Semenarik Festival Taman Kota yang dilaksanakan di Taman Kampus Palembang, Minggu (30/3) lalu.

Ya, taman yang berlokasi tepat di depan gedung TVRI Palembang (Jalan POM IX) mendadak ramai didatangi anak-anak muda di kotaku pada Minggu sore itu. Tidak heran, di sana ada lapak baca gratis, pameran karya seni rupa, dan foto monografi. Mereka yang datang disuguhi panggung puisi, musik akustik, teater, dan pemutaran film. Tidak hanya itu, digelar juga kegiatan belajar bersama anak-anak, jam strip komik, diskusi sastra, dan workshop zine Bahkan, ada makan dan minum gratis, sharing menu, demo masak, serta kegembiraan gathering antar komunitas membuat event ini makin semarak.

Suasana Festival Taman Kota Palembang

Suasana Festival Taman Kota Palembang

Layaknya piknik di tengah kota, festival yang pertama kalinya digelar ini bisa menjadi alternatif hiburan para kaum urban. Terutama dalam mengisi akhir pekan dan melepas penat dari kesibukan harian. Siapa saja bisa hadir untuk membaca, menyanyi, menggambar, menonton, atau lainnya sesuai minat. Tidak sedikit dari mereka yang datang, mengabadikan diri di spot-spot menarik di lokasi festival.

35 foto monografi dipamerkan

“Di sini, kami pamerkan 35 karya foto monografi bertema lingkungan. Semoga bisa menginspirasi yang lain,”kata Mochammad Ali, salah satu anggota Palembang Monography.

plbg-festival taman kota 5_mushaful imam(musi life)

suasana nobar film pendek

Event yang digelar mulai pukul 13.00 – 21.00 wib ini digagas bersama oleh komunitas-komunitas di Palembang. Diantaranya Komunitas Halte Sastra (sastra), Bangku Merah (film), Ink Studio (komik), Teater Bingkai (Bingkai), Ruang Bebas Baca (literasi), Sangkakalam (penerbitan alternatif), Bingkai Bangkai (kolase), Spektakel (musik), Palembang Monography (fotografi), dan Urban Piknik.

plbg-festival taman kota_mushaful imam(musi life)

bebas baca dan diskusi sastra

Setiap komunitas bahkan membuat poster bertajuk Festival Taman Kota dengan gaya khas masing-masing. Meski tanpa support pemerintah, event kolektif ini meriah sesuai harapan. Ewin, temanku, menegaskan di sini tidak ada panitia penyelenggaran, semua komunitas yang terlibat bergerak untuk menyukseskannya bersama. Jadi, salah besar kalau ada lembaga tertentu yang mendeklarasikan diri sebagai penyelenggara. Hmm… menarik, kan?

Foto by: kak shaful