Yuhuuu… dapat nasihat singkat dari dosen pengujiku hari ini.
“Perbanyak lagi bacaan Anda.” Haiiik, Sensei. Ternyata masih kurang ya bacaanku, ihik.

Catat: membaca. Kata Kang Arul dalam sebuah tulisan, orang yang gemar membaca termasuk orang yang beruntung. Lucky Luke? (film koboy zaman SD). Aku suka membaca dan ingin rasanya mempunyai karya tulis yang bisa mencerahkan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Katanya, membaca saja tak cukup bila ingin berbagi ilmu. So? Berbagilah bacaan dengan menuliskannya dalam bentuk tulisan.

Ah jadi ingat, sabtu ini akan ada bedah karya resensi di Taman Bacaan Ciputat sebagai program peminatan di FLP. Haa… forum ini lagi! Ga coba komunitas lain? Ya, tepat momennya ketika seorang sahabat mengajak ke event keren seputar resensi yang diadakan oleh klub goodreads hari minggu 14/2 lalu. Pembicanya ada Mas Damhuri Muhammad, penulis resensi di berbagai media cetak, dan Mas Bambu (Bambang Budjono), wartawan senior.

Mas Damhuri memberi istilah resensi dengan kata timbangan. Menurutnya, resensi itu ibarat bilah bambu layang-layang yang seimbang, timbangan yang seimbang. Bagaimana agar seimbang? Tentu dibutuhkan keterampilan dari si penulis resensi, minimal dia harus memahami tujuan pengarang. Selain itu, dia sendiri juga harus mempunyai tujuan dalam membuat resensi, mengenal selera pembaca, mempunyai pengetahuan luas, menjadi pengamat buku, bahkan sebagai kolektor buku. Waah ini yang sulit…. Sulit memulai mungkin. Tapi, menulis resensi itu ternyata memberi manfaat bagi penulis resensi sendiri lho, karena informasi atas buku yang diulasnya bisa menjadi masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya.

Bagaimana prosesnya? Secara umum, proses penulisan resensi ada tiga tahap yaitu pemilihan buku, penulisan, dan pengiriman naskah. Pada tahap pemilihan buku, usahakan cari buku penting, berkualitas, dan baru. Tapi tidak berarti buku lama tidak bisa diresensi karena usia resensi itu abadi halah… istilah sendiri ini mah . Untuk proses penulisan, yang paling sulit, sebenarnya bisa dengan kreativitas penulis sendiri dengan memperhatikan poin-poin berikut:

• Cantumkan informasi awal buku (anatomi), seperti judul buku, nama penulis, penerbit, tebal, dan tahun terbit.
• Tentukan judul yang menarik dan provokatif.
• Membuat ulasan singkat buku berupa ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku, bisa berisi substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang penulis resensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang berbeda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.

Nah, tahap yang ketiga adalah publikasi. Karya harus disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Ya, biar aman dan berpotensi dimuat tentu baiknya mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan.

Intinya, menulis resensi buku adalah berbagi ilmu. Setelah membaca buku dan membaginya kepada orang lain lewat tulisan, bisa membuat kita lebih bahagia. Yuk ah… kita belajar menulis resensi.

Note: Foto-foto ini, diambil dari album “Imlek & Valentine’s Day – Klub Buku GRI 2” by Fb TMbookstore Tmbookstore. Haa… lihatlah si kerudung biru dan cokelat di sudut belakang itu. Mereka sibuk dengan pikiran-pikiran masing-masing!

Advertisements