Satu menara satu senja. Tapi kenapa judulnya jadi lima menara? Satu hal yang pasti novel Negeri 5 Menara benar-benar membiusku di hari Sabtu yang lalu, pas momennya ketika kondisi tubuh memintaku untuk terus berada di tempat tidur yang diistilahkan kulipayah dengan ‘pusing membawa rona merah di pipi’. Asal tahu saja, istilah beliau ini kutemukan di pesan singkat nan romantisnya (wuks) Minggu pagi kemarin, gara-gara kopdaran di Istora Senayan hari Jumat lalu dengan muka merah karena lagi nggak fit. Perhatian sekali, kan? Tapi, maaf ya kulipayah… aku tak bisa balas pesanmu karena bis abis abis pulsaku abis 😉 maaf juga untuk yang lain karena nggak bisa ikutan conference-nya.

Oke, aku kasih sedikit sinopsis novel karangan A. Fuadi ini, kalau ulasan panjangnya silahkan baca tulisan Mas Damhuri aja. Sssst…. sebelumnya, ada sebuah rahasia. Negeri 5 Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Di sampul belakangnya pun ada catatan khusus: segera difilmkan. Menarik, kan? Mari kita langsung mulai sinopsis-nya, deh.

Siapa sangka kalau kehidupan pesantren bisa membawa shahibul menara bersemangat meraih mimpi mereka. Eiits…. siapa shahibul menara? Merekalah enam santri Pondok Madani (PM) yang menjadi tokoh-tokoh dalam novel ini. Ada Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Madura), Said (Surabaya), dan Baso (Gowa). Mereka sering berkumpul di bawah menara masjid melewatkan waktu senja sambil bercerita tentang kegiatan di siang hari. Saking seringnya mereka berkumpul di sana, kawan-kawan lain pun menggelari mereka dengan Shahibul Menara, orang yang punya menara.

Mereka berenam sudah menjadi sahabat kental sejak masuk PM. Sama-sama merasa senasib sepenanggungan. Seperti kata orang bijak, penderitaan bersamalah yang menjadi semen dari pertemanan yang lekat. Begitu menderitakah tinggal di pesantren? Owh… tidak, teman. Penderitaan mereka ini akibat kelalaian mereka sendiri melanggar disiplin di PM, misalnya terlambat shalat berjamaah, ketiduran saat belajar, atau berbicara dalam bahasa Indonesia.

Jadi ingat, saat aku dan langit11 (eh kulipayah juga ya?) jadi santri dadakan di Ma’had Al-Imarat Bandung. Persis dengan ceritanya shahibul menara, kami tidak boleh bicara selain dalam bahasa Arab. Kadang di antara teman-teman, ada yang bertugas menjadi jasus atau mata-mata yang akan mencatat siapa-siapa yang melanggar aturan itu. Tapi, aku akui kalau kami lebih bandel dari shahibul menara, karena kami bekerja sama dengan para jasus (sambil kedip-kedip mata) agar sama-sama memakai bahasa Indonesia. Whuaaa! (kebayang dipelototin Ustadzah Nunuk) hehehe.

Oke, kita kembali ke shahibul menara. Suatu sore, mereka berkumpul di tempat favorit sambil membaringkan diri di pelataran menara. Terlihat oleh mereka awan-awan yang bergulung. Imajinasi mereka membayangkan awan-awan itu menjelma menjadi peta dunia; Benua Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika. Itulah awal perbincangan tentang impian masa depan. Bagaikan menara, cita-cita mereka tinggi menjulang: kuliah di Amerika, menjaring ilmu di Arab Saudi, menapaki jejak Ibnu Rusyd di Spanyol, mendatangi Mesir yang disebut ibu peradaban dunia, menikmati keunikan Iran dan India, mengukur tingginya menara Trafalgar Square di London, tidak lupa membangun madrasah di kampung halaman.

Kisah pun diakhiri dengan reuni di Trafalgar Square. Sebuah menara sebuah senja. Suasana dan pemandangan yang terasa sangat lekat di hati. Hanya saja, menara kali ini adalah menara impian belasan tahun lalu. Mereka tidak menyangka bakal menggenggam impian masing-masing. Seperti yang tertulis dalam novel ini, “Modal kami hanya berani bermimpi, lalu berusaha, bekerja keras, dan menggenapkan doa. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.”

Ah… seandainya aku menemukan koper berisi uang banyak, aku pasti mendatangi negeri-negeri itu juga (ketahuan mau yang instan aja). Aku akan melihat indahnya dunia yang berbeda. Ini juga mimpiku. Ya… giliranku bermimpi dan meyakini bahwa dengan izin-Nya apa pun bisa terjadi. Jika itu memang terjadi, negara pertama yang akan kukunjungi tentu saja bukan Negeri Timbuktu tapi Makkah Al-Mukarammah. Kemudian dilanjutkan ke Mesir, Iran, Jepang, New Zealand, Jerman, Kutub Utara, Bulan, Matahari, Mars, Venus,… (mulai ngaco). Tapi, tampaknya mampir ke Bandung untuk merasakan kembali lezatnya lumpia di gerbang kampus Unpad tercinta lebih asyik. Aduh… koper uangnya segede apa sih? Jangan-jangan memang cukup buat ke Bandung aja hahaha.

Pic: “Trafalgar Square” by Bronwen Mitchell

Advertisements