“Dari mana?” tanyanya ramah.
“Saya baru saja berkunjung ke seseorang yang bijaksana.” jawabku.
“Ah, alangkah sayangnya,” katanya penuh simpati. “Kalau memang dia begitu peramah kepada tamu dan pengasih kepada musafir, mengapa engkau meninggalkannya?”

Komentarnya itu membuat hatiku terluka dan aku mulai menangis.

“Untuk apa tangisanmu itu?” dia bertanya.
“Tangisan adalah obat, tangisan ini meredakan rasa sakitku.” jawabku.
“Tapi jika engkau benar-benar tulus,” lanjutnya, “Tentu engkau tidak akan menangis sama sekali.”
“Apakah itu sebabnya mengapa orang-orang yang tulus tidak menangis?” tanyaku.
“Betul. Sebab tangisan memberikan ketenangan pada hati, yang merupakan cacat bagi orang yang bijaksana. Engkau jelas bukan seorang yang bijaksana.”

“Nasihatilah aku lebih banyak lagi,” pintaku. “Dengan nasihat yang akan memberiku manfaat di hadapan-Nya.”
“Alangkah malangnya engkau ini, tidakkah sahabat-sahabatmu membantumu hingga paling tidak mereka menjadikanmu tidak perlu mengejar hal-hal yang berlebihan?”
“Aku mencarimu,” jawabku.
“Agar engkau bisa mengajariku sesuatu yang mungkin bisa kuamalkan.”

Kemudian dia menasihatiku

(Diambil dari buku: Wanita-Wanita Sufi)

Advertisements