Udara yang panas sore itu tentu bukan karena garangnya si matahari. Katanya, lapisan ozon di bumi sudah bertambah bolongnya akibat ulah manusia yang tidak mau mengerti arti kerakusan. Bagaimana kira-kira menambalnya? Pertanyaan itu seakan menguap seiring kesibukan masing-masing manusia. Seperti Rahma, dia tidak peduli dengan panasnya berada di dalam angkutan kota itu. Anak SMA yang duduk gelisah karena si sopir belum juga menjalankan mobil pun tidak terlalu ia pedulikan. Rahma sibuk membolak-balikkan koran hari ini. Koran itu membuat suasana hatinya ceria saja tanpa perlu ambil pusing masalah ozon yang bolong. Dia mendapat kabar dari teman-temannya kalau tulisannya dimuat di koran tersebut.

Ya, ada namanya di situ. Setelah puas melihatnya, koran tersebut segera ia simpan ke dalam tas kerjanya yang tidak butut. Dengan senyum-senyum ceria, dia tebarkan pandangan ke sekelilingnya. Angkutan umum masih di tempatnya, belum ada penumpang lain selain dia dan anak SMA itu.

“Hei kamu kenapa? Ketakutan begitu?” tanyanya.

Anak SMA laki-laki yang anggun itu terkejut dengan pertanyaan dari Rahma. Dengan muka pucat dia menunjuk ke arah luar mobil. Rahma mengikuti arah yang ditunjukkan. Tampak olehnya rombongan seniman kuda lumping jalanan sedang bersiap-siap memulai aksi tepat di samping angkutan umum yang mereka naiki.

Rahma mencoba menebak, mungkin mereka satu keluarga. Ada bapaknya yang membawa cemeti, ada ibunya yang membawa wadah plastik untuk tempat uang dari penonton, ada pamannya yang memainkan alat musik gamelan, ada pamannya yang lain sedang bermain-main dengan api di mulutnya, dan ada tiga anak kecil yang siap-siap pula beratraksi dengan kuda-kudaan. Suara gamelan yang aneh menarik banyak orang untuk menonton aksi mereka. Rahma bersiap-siap dengan kamera ponselnya ketika si paman kuda lumping akan menyemburkan api. Sedikit ia lirik anak SMA si sampingnya. Anak itu semakin pucat ketakutan, kedua telinganya ia tutup dengan tangan dan matanya terpejam. Rahma tersenyum geli melihatnya.

Bushhhhh… api merah tersembur dari mulut paman kuda lumping berkulit gosong itu. Penonton yang tentu saja para pemakai jalan bertepuk tangan. Salah satu dari anak kecil pembawa kuda menyodorkan tongkat api dari arah belakang si paman. Ia pun segera terlonjak kaget dan kepanasan, matanya melotot tapi ia tersenyum. Penonton pun tertawa melihat si kecil yang jail itu meledek pamannya.
Tiba-tiba ada suara cemeti memekakkan telinga. Cemeti itu besar sekali! Besar ukurannya dan juga suaranya. Si bapak datang dan memulai dramanya. Ia lemparkan cemeti ke arah si paman dan berteriak, “Kenapa apinya? Jangan main-main, kerja yang bener.”

Selanjutnya Rahma tidak terlalu memperhatikan. Si ibu yang datang membawa wadah plastik mendekatinya.
“Bu, sudah berapa lama tampil kayak gini?” tanya Rahma sambil meletakkan uang ke wadah plastik itu.
“Wah… sudah lama, Neng. Waktu saya masih kecil juga sudah main gini.” Jawabnya polos.
“Senang, bu?” pertanyaan yang aneh. Rahma menyesal melontarkan pertanyaan yang satu ini.
“Ya, senang aja karena bisa bareng-bareng keluarga, meski ya… ga banyak sih dapatnya. Sudah ya, neng.” Si ibu segera berlalu.

gambar: si paman kuda lumping (dok.pri)

Advertisements