Keberanian yang mendapat balasan manis yaitu menjadi bagian Pakistan Air Force (PAF) dan menerbangkan pesawat tempur di garis depan. Itulah yang dialami Ambreen Gul (25) dan Nadia Gul (26). Ambreen tercatat sebagai pilot tempur perempuan pertama di negara yang disebut sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia itu sedangkan Nadia tercatat sebagai salah satu lulusan terbaik PAF.

“Ini profesi yang unik, perlu motivasi tinggi untuk mewujudkannya. Saya sangat suka terbang, menerbangkan pesawat tempur dan mengabdi pada negara,” papar Nadia yang mengenakan jilbab hijau, senada dengan warna jaket militernya.

Ambreen pun mengaku tidak mudah untuk masuk ke dalam bagian paling elite dalam militer, pilot tempur, yang selama 60 tahun tertutup bagi perempuan. Lahir dan dibesarkan di negara Muslim, membuat Ibu sang pilot khawatir prestasi anaknya justru membuat malu keluarga. “Pengaruh budaya timur membuat ibu saya khawatir, orang akan bilang, mengapa ibu membiarkan anak perempuannya keluar rumah,” tutur Ambreen, dikutip Al-Arabiya. Beruntung sang ayah, yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan, selalu mendukungnya. Sebagai pilot militer berpangkat letnan, mereka memiliki penghasilan 60 ribu rupee per bulan atau sekitar 700 dolar AS.

Berdinas di militer, apalagi di Pakistan, membuat mereka harus menghadapi bawahan, rekan sekerja, dan atasan yang sebagian besar laki-laki. Dengan menyandang status sebagai pilot tempur, membuat mereka mendapat penghormatan. “Keluarga mendukung, saya rasa banyak yang terkesan,” kata Nadia. Nadia mengungkapkan apa yang dicapainya saat ini memberikan gambaran yang berbeda mengenai negara Islam dan perempuan Muslim. Ia percaya langkahnya akan memberikan gambaran berbeda mengenai Pakistan yang selalu digambarkan terbelakang oleh Barat. “PAF memberi kesempatan sama bagi kami. Ini kemajuan luar biasa, PAF merekrut pilot tempur pertama wanita.”

sumber

Advertisements