“Inilah penjara terbesar di dunia.” kata seorang jurnalis sambil menunjukkan foto sebuah tembok kepada presenter perempuan di sebelahnya.

“Maksudnya, penjara terbesar di dunia?” tanya si presenter itu heran.

Klik! Televisi dimatikan.

“Ayo, saatnya kita berangkat.” sahut seorang bapak kepada dua perempuan yang sedari tadi memperhatikan acara talk show di sebuah stasiun tv. Keduanya pun bangkit dari duduknya dan bersegera mengikuti langkah sang bapak menuju keluar rumah.

“Mereka menghujat Nazi tetapi sekarang mereka menirunya dengan membuat tembok raksasa.” kata seorang perempuan itu dengan geram. Ujung jilbabnya melambai tertiup angin sesaat ia melangkah dari pintu.

“Tragedi Palestina ini, apa ya solusi logis, realistis, dan efektifnya?” tanyanya seakan bertanya pada diri sendiri.

“Gelar demonstrasi seperti yang akan kita lakukan sekarang, kak.” jawab perempuan yang lebih muda.

“Demo pro Palestina ini bukan sekedar untuk menyadarkan dunia tapi demi tazkiyah an-nafs, penghancuran ego, dan penegasan terhadap persatuan!” jelasnya sambil mempercepat langkah karena dari jauh sang bapak sudah melambaikan tangan kepada mereka.

“Tapi, kakak ikut juga berdemo kan… hehe.” ledek si adik.

“Huu… kamu tuh. Coba jawaban yang lain!”

“Ehm… kalau jawabannya kirim bantuan kemanusiaan?”

“Itu dalam misi kemanusiaan memang harus, tapi sulit dan sebenarnya kurang efektif guna kemerdekaan Palestina.” katanya sambil melirik si adik. “Doa, dek.” lanjutnya.

“Ya, kak, saat ini kita cuma mampu berdoa.” jawab adiknya tertunduk.

Dari kejauhan tampak seorang teman mengibarkan bendera besar Palestina. Pasti berat, pikirnya. Tapi, apalah arti bendera Palestina dikibarkan dan apalah arti perjalanan di siang terik ini bagi Palestina? Mereka tidak butuh kalian! Itu kata Ibu Santi dalam suratnya. Ya, mereka hanya butuh pertolongan Allah. Satu cara mempercepat pertolongan itu adalah dengan doa.

Pandangan perempuan itu berkabut, sesaat kemudian dia merasakan air matanya sudah jatuh dan mungkin terhempas ke tanah. Ah… hanya air mata, bukan darah pengorbanan! Tidak bisa kubayangkan jika aku berada di Gaza hari ini, batinnya. Apa yang mampu kulakukan? Pengecut sekali!

****

Tulisan ini dilaporkan ke bangaswi dan langit11

Advertisements