Resensi (Dimuat di Koran Jakarta edisi Selasa 15 Juni 2010)

Judul : Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendiri)
Penulis : Rachel Corrie
Penerbit : Madia Publishing
Tahun : I, 2008
Tebal : 526 halaman
Harga : Rp 88.000,-

Kapal MV Rachel Corrie menembus blokade Israel terhadap Gaza menggantikan kapal misi kemanusiaan sebelumnya yang gagal mencapai Gaza akibat serangan brutal Israel Senin 31/5 lalu. Nama kapal ini diambil dari seorang aktivis kemanusiaan bernama Rachel Corrie sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.

Siapa Rachel Corrie? Rachel Corrie adalah sedikit dari orang Amerika yang peduli pada tragedi kemanusiaan di Palestina. Selama di Palestina, Rachel mengirimkan surat kepada orang tuanya tentang kesedihannya terhadap korban kekejaman zionis Israel. Ia malu negaranya turut melakukan semua kekejaman di Palestina. Rachel merasa perlu memberi tahu orang-orang Amerika atas semua kesaksiannya di bumi Palestina, karena itu dia berharap tulisannya tersebut dipublikasikan.

Buku Let Me Stand Alone merupakan kumpulan surat Rachel tersebut selain juga memuat catatan pribadinya yang lain berupa cerita, curhat, pemikiran, dongeng, hingga sketsa. Tulisan Rachel dalam buku ini mengumandangkan pertanyaan-pertanyaannya tentang bagaimana menemukan jalan hidup di dunia, tindakan apa yang bisa mempengaruhi orang lain, dan lainnya. Semuanya ditulis dengan semangat, penuh wawasan, rasa kasih, dan kecemasan seorang remaja Amerika.

Rachel semasa sekolah memang tercatat sebagai siswa aktif yang sangat peduli pada sosialnya, termasuk masalah kelaparan, gelandangan, dan lingkungan. Salah satu pidatonya tentang kemanusiaan, saat ia duduk di bangku kelas 5, pun banyak beredar di internet. Setelah merampungkan studinya dalam bidang seni liberal di Evergreen State College, Rachel bertolak ke wilayah pendudukan Palestina untuk mengabdikan diri sebagai aktivis ‘perdamaian tanpa kekerasan dan pengamat hak asasi manusia’ hingga kematian tragisnya.

Saat itu, 16 Maret 2003, ia berdiri di depan buldoser Israel. Ia mencegah penghancuran rumah seorang warga Rafah. Buldoser jelas tidak bermata. Tapi, tentara Israel di atasnya lebih buta lagi; sama sekali tidak berhati. Dengan kendaraan yang beratnya berton-ton itu, ia merangsek ke arah rumah. Tubuh Rachel yang berlutut di depannya tidak dihiraukan. Rangka Rachel akhirnya remuk dilindas buldoser itu. Ia menghembuskan nafasnya yang pungkasan di Rumah Sakit Najar.

Kini dunia mengetahui Rachel dari cara dan setelah dia meninggal. Memang setelah kematiannya, pengaruh Rachel semakin kuat. Sekuat cita-citanya terhadap keadilan, kemanusiaan, dan dunia tanpa kekerasan. Buku ini menegaskan cita-citanya tersebut bahwa segala bentuk kekerasan bukan sebuah solusi tapi sebab kehancuran peradaban dunia. Rachel Corrie, seorang penulis, pujangga, dan aktivis kemanusiaan. Goresan penanya memberikan inspirasi bahwa usia muda bukan masa untuk hidup dalam hedonisme tapi langkah kepedulian dan aksi nyata untuk menciptakan dunia yang damai.

***

Anda bisa memesan buku ini dengan harga murah di Pustaka Si Kupu. (hehe sekalian promosi)

Advertisements