By: Muhsin Labib

Tuhanku, bila saja memperlihatkan derita kepada orang lain diperbolehkan, niscaya aku ganti munajat rintih ini dengan permohonan bantuan dan pertolongan.

Gelayutanku, andaikan saja mengundang iba orang lain diizinkan, maka aku isi mulutku dengan tuturan keluh kesah. Kalau saja meminta dukungan kepada orang lain tidak dianggap sebagai sikap yang tak terpuji, tentu aksara-aksara pilu ini tak kan pernah terangkai. Jika saja mengharap simpati orang lain terhadap persoalan-persoalanku diwajarkan, aku tentu akan sibuk merengek dan meminta kepadanya.

Tiangku sandaraku, entah apakah perasaanku bahwa banyak orang lebih beruntung dariku tergolong kufur ataukah tidak. Perasaan ini ada sejak dulu sebelum aku menempati posisi seperti saat ini.

Pemilik nafasku, aku berpura-pura ceria dan berusaha perlihatkan bahagia karena orang-orang sekitarku sangat membutuhkan hal itu. Terlalu banyak orang yang yakin atau menduga bahwa aku cukup handal untuk menjadi tempat mengeluh dan meminta nasihat.

Pemegang ubunku, aku tidak benar-benar berada di tengah mereka. Dalam hiruk pikuk itu, aku kesepian. Dalam jumlah yang banyak itu, aku sendirian. Dalam kebenderangan itu, aku muram. Dalam tawa itu, aku merintih. Dalam rintih itu, aku menangis. Dalam tangis itu, aku berdoa. Dalam doa itu, aku bisu. Dalam bisu itu, aku pasrah…

Tumpuanku, aku masih menunggu isyarat-Mu. Tuhanku, detak detak jam dinding terdengar amat pelan bergerak seakan memperlambat daur waktu menjelang pagi. Sepi di kelilingku, namun teriak bercampur rasa remuk dalam kalbuku. Aku berada di penghujung asa menanti isyarat dari langit agar segera merapat dan temukan pantai.

Cintaku, kabulkan semua doa orangtua, keluarga, teman-teman, dan semua yang sedang gelisah, yang sedang mengharapkan kiriman ruh di rahimnya, yang sedang menanti lelaki yang menyerahkan kuntum kasih dan kado perlindungan, yang sedang mengangankan rumah yang menjadi mihrabnya, serta yang sedang mengais rezeki agar terhindar dari kekufuran dan semua yang menengadahkan tangan ke arah wujud-Mu, menanti isyarat-Mu di bulan kesayanganmu ini, Rajab, yang semerbak.

(Tulisan ini tidak mewakili kondisi pribadi penulis namun ekspresi semua pendamba maghfirah)

Advertisements