(Dimuat di eramuslim.com edisi Rabu, 16/06/2010)

It is Syahru Rajab! Artinya Bulan Suci Ramadhan tinggal dua bulan lagi dalam hitungan tahun hijriyah. Apa yang sudah aku siapkan untuk menyambutnya? Apa aku memang sudah siap menyambutnya?

Kurasa berbenah diri adalah langkah awal untuk meyakinkan bahwa aku siap menyambutnya. Berbenah diri seiring dengan perjalanan panjang dalam perkembangan hidupku. Kau tahu, kehidupan pada hakikatnya adalah gerak yang tak pernah berhenti, kecuali bila dihentikan sendiri oleh Sang Maha Penggerak. Karenanya, aktivitas dan kebutuhan keseharian pun harus berproses, bermetamorfosa, berkembang ke arah penyempurnaan yang tidak terhingga.

Uuuw… tampak berat postinganku kali ini πŸ˜•

Aku memahami bahwa perkembangan itu ada dua, yaitu perkembangan fisik dan perkembangan ruhani. Tentu saja, karena diri ini pun terdiri dari dua unsur yaitu unsur lahir (jasadiyyah) dan unsur bathin (ruhaniyyah). Perkembangan fisikku sudah selesai sampai di sini. Tubuhku yang awalnya berasal dari segumpal darah yang bertumbuh menjadi segumpal daging lalu mengembang lagi menjadi tulang-belulang*, tentu tidak akan lagi berubah menjadi sesuatu yang lain. Ada pun yang akan berkembang adalah diri ini; ‘kesadaran diri’ yang kadang merasa tidak percaya diri, tidak mampu, atau susah. Bila aku yakin, rasa tidak percaya diri itu akan berubah menjadi percaya diri, rasa susah menjadi bahagia. Karena kata Mulla Sadra (filsuf muslim): “Al-nafs jismiyyah al-huduts ruhaniyyah al-baqa’ (Jiwa bermula secara material dan berkelanggengan secara spiritual).ﺏ

Ow..ow… semakin berat pembahasannya 😯

Berbenah diri seperti apa yang harus kulakukan? Hmm… hai teman, pernahkah kau dengar istilah menyucikan jiwa? Mungkin seperti itulah yang disebut berbenah diri seharusnya. Allah SWT berfirman: “Qad aflaha man zakkaahaa (Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)).”οΊ• Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu ya. Menyucikan jiwa yang dimaksud tentulah yang bentuknya secara proporsional. Dalam ayat ini Allah menempatkan jiwa kita seperti harta yang kita miliki. Maksudnya, jiwa itu ada zakatnya sebagaimana harta. Diri ini juga harus dizakati, disucikan. Ketika zakat diartikan sebagai sebuah penyucian dan diketahui bahwa harta yang dikeluarkan dalam bentuk zakat itu adalah amanat yang harus disampaikan kepada yang hak, maka begitu juga dengan zakatnya jiwa. Jiwa ini mempunyai sifat-sifat yang berhak dimiliki oleh Yang Berhak.οΊ™

Maka dari sini aku berfikir bahwa penyucian jiwa berarti mengeluarkan zakat jiwa dengan cara tidak melewati batas yang telah ditentukan untuk diri dan memegang teguh komitmen statusku sebagai seorang hamba. Bahasa sederhananya mungkin ‘tidak sombong dengan membesarkan nama diri karena hanya Allah yang maha besar’. Kesimpulanku, tetap berusaha berbenah diri, menyucikan jiwa dengan membersihkannya dari hal-hal yang tercela dan menghiasinya dengan perbuatan-perbuatan yang membuatnya menjadi mulia.

Uhhh… ada yang paham dengan apa yang kutulis? πŸ˜‰ Ya, inilah refleksiku tentang diri, jiwa yang masih tergadai oleh tuntutan orang lain. Tidak terpahami, mungkin memang ilmuku masih sedikit. Mohon maaf 😳

Ya Allah berkahilah kami dibulan Rajab & Sya’ban serta berikanlah kami kesempatan untuk sampai pada bulan Suci Ramadhan.

Foot Note

* : Q.S. Al-Mukminun (23): 12-14
ﺏ : Muthahari. Pengantar Pemikiran Mulla Sadra. Bandung, Mizan, 2004.
οΊ• : Q.S. Asy-Syams (91) : 9
οΊ™ : Jiwa Menurut Ibn Arabi

Advertisements