Kubaca harian R pagi ini. Lagi-lagi berita tentang pertandingan bola, tim Spanyol yang kalah, terompet vuvuzela yang menghebohkan, dan segala macam komentar mengenai permainan tim-tim jagoan. Tampaknya berita Gaza kini tertelan euforia Piala Dunia. Tentu saja, beberapa minggu ke depan pemberitaan tentang perhelatan sepak bola dunia ini akan terus menghiasi media, dan semakin hilanglah fokus pemberitaan tentang Gaza.

Di halaman khusus Piala Dunia itu, kutemukan tulisan yang menarik. Rubriknya bernama ‘Surat dari Johannesburg’ yang berisi laporan dari wartawan harian R. Bukan laporan berapa skor nilai pertandingan terakhir tapi tulisan feature tentang Piala Dunia dengan sudut pandang subjektif dia sebagai wartawan. Wartawan itu mungkin pernah satu ruangan denganku saat menunggu hasil wawancara tahun lalu (mengkhayal hehe). Aku tidak tahu mau izin ke mana, tapi aku cuma mau simpan salah satu tulisannya di sini. Silahkan dibaca.

******

Tim Negara Anda Bermain?

Indonesia tidak ikut ambil bagian di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Namun, wartawan dari negara kita terbilang cukup banyak meliput pesta sepak bola terbesar di dunia ini. Seluruh harian nasional mengirimkan wartawannya. Begitu juga televisi dan media online.

Wajah dan bahasa yang berbeda membuat para wartawan, termasuk saya, selalu mendapatkan pertanyaan ‘wajib’, “Anda dari mana?” Banyak yang menduga dari Filipina, ada pula yang menyebutkan Vietnam dan Malaysia. Ternyata negara kita tidak cukup beken bagi sebagian warga di sini. Bagi yang tahu, kemungkinan besar orang tersebut beragama Islam. ”Anda dari Indonesia. Masya Allah, Anda saudara kami,” begitu sambutan yang sering saya terima saat memperkenalkan diri kepada umat Muslim lokal.

Yang paling menyebalkan bagi saya adalah ketika bertemu warga lokal yang tidak begitu paham sepak bola dan Piala Dunia 2010, yang warganya kebanyakan kulit putih. Biasanya setelah berbasa-basi memperkenalkan diri, pertanyaan yang mereka lontarkan adalah, ”Tim negara Anda bermain?”

Kalau sudah begini, saya hanya bisa tersenyum kecut. Pikiran pun melayang ke mana-mana, berkhayal suatu saat timnas Indonesia bisa berlaga di pentas terakbar seperti Piala Dunia ini.

Saya kira saya tidak sendirian. Ada sekitar 250 juta orang di tanah air berharap serupa, timnas kita tampil di stadion berkelas internasional yang dipadati puluhan ribu penonton serta diliput oleh wartawan olahraga dari seluruh dunia. Entah kapan itu bisa terjadi. Siapa yang berani memprediksi jika sepak bola kita saat ini sedang hancur lebur. Jika di Asia Tenggara saja timnas kita sudah tidak dianggap, sulit membayangkan skuat Merah Putih berlaga di level dunia.

Ingatan saya kembali ke beberapa hari lalu saat upacara pembukaan dan laga perdana yang berlangsung di Soccer City. Kebetulan, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes, datang langsung ke stadion tersebut karena sedang berada di Johannesburg untuk mengikuti pertemuan FIFA.

Hadangan macet di sepanjang jalan dari hotel yang mereka tempati di kawasan elite Sandton, tidak menyurutkan antusiasme mereka untuk menjadi saksi mata pertandingan akbar ini. Kembali dari Soccer City, binar kepuasan terpancar di wajah mereka.

Bisa jadi mereka sudah merasa cukup hanya berstatus penonton, bukan sebagai petinggi asosiasi yang hadir di bangku VIP untuk memberikan dukungan moral kepada para pemainnya yang sedang berjuang di lapangan. Dari rasa puas yang ditunjukkan kedua petinggi PSSI itu, saya yakin, selama di Johannesburg mereka belum pernah mendapatkan pertanyaan dari warga lokal, ”Tim negara Anda bermain?”

sumber

Advertisements