Selepas shalat Zhuhur berjamaah, aku dan sahabatku duduk berbincang di teras masjid itu, Masjid Salman namanya. Angin bertiup lembut menerbangkan ujung kerudung kami. Sejuk! Sejuknya bukan karena angin pembawa bahagia itu saja, tapi suasana komplek Masjid Salman ITB yang memang menyejukkan semua indera.

Bayangkan, Salman dirancang dengan struktur bangunan yang sederhana. Tidak ada kubah berlapis emas di atasnya, tidak ada kaligrafi indah di dindingnya, dan tidak ada bedug besar lambang kebanggaan. Desain gaya panggung bernuansa modernnya sedap dipandang mata. Lantai kayu dan pintu-pintu lebarnya membuat suhu dingin menenangkan (deuuuh).

Di balik kesederhanaannya, Salman penuh dengan beragam kegiatan sosial karena ia memang difungsikan sebagai pusat kegiatan-kegiatan tersebut. Sebut saja, di sana ada asrama mahasiswa, klinik kesehatan murah, kantin, perpustakaan, aula multifungsi, serta taman yang luas. Terlihat dari tempat kami duduk, para penggiat itu sibuk beraktivitas. Ada yang mengkaji Al-Quran bersama, mengajar anak-anak, hingga aksi fotografi dan melukis.

Senangnya bisa mengenal masjid dengan makna sebenarnya. Meskipun banyak masjid yang lebih indah, tapi Masjid Salman bagiku benar-benar memenuhi perannya sebagai pusat kejayaan spiritual dan duniawi. Yah, inilah Masjid Salman bagiku, kalau bagimu?

Advertisements