“Bukan salah Suku Air jika banjir masih saja terjadi di bumi kita. Katara, si pengendali air dari Bangsa Air Selatan, pun pasti setuju dengan pendapat itu. Ia dan kakaknya, Sokka, yang mati-matian menemani Aang untuk berlatih menguasai empat elemen itu tentu yakin bahwa penyebab utama banjir adalah ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.”

Robbi… prolognya kok gaya-gayaan dengan tokoh-tokoh Avatar? ๐Ÿ˜€

Mohon dimaklumi, masih terpengaruh The Last Airbender nih. (Hei sikupu, ini sudah menjelang Ramadhan! Ramadhankan blog-mu!) hehe. Bukan karena lalai aku menonton film yang satu ini. Menemani nonton sang keponakan yang baru saja libur dari sekolah berasramanya tentu menjadi momen bahagia sekaligus pengikat hati. Betul tidak? ๐Ÿ˜‰

Kau tahu, The Last Airbender itu mengandung filosofis timur yang kental sekali. Tidak mengherankan jika di bioskop itu kujumpai Prof. Mulyadhi Kartanegara, pakar filfasat Islam, yang hadir (menonton) bersama keluarganya. Di sana juga ada Dr. Kholid Al-Walid, ustadz yang menulis disertasi tentang eskatologi (kebangkitan kehidupan). Meskipun memang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tapi kuyakinkan bahwa cerita legenda ini bisa menjadi pelajaran mengenai jiwa dari sudut yang berbeda. Misalnya, jiwa yang rakus diwakili oleh Bangsa Api dalam film ini, atau juga tentang dunia roh yang dalam Islam memang diyakini.

Begini cerita awalnya:

Di masa lampau, ada empat bangsa yang mendiami dunia. Keempat bangsa tersebut yaitu Air, Bumi, Api, & Udara hidup damai berkat penjagaan dari sang Avatar. Ia satu-satunya yang mampu menyatukan empat elemen tersebut.

Sampai suatu waktu sang Avatar pergi. Bangsa Api lalu menyerang dan berperang dengan tiga negara lainnya selama seratus tahun. Harapan untuk kembalinya perdamaian muncul dengan kehadiran Aang, Avatar baru yang berasal dari bangsa Udara (Airbender) yang baru berusia 12 tahun. Aang diharapkan dapat menghentikan penjajahan Bangsa Api serta menyatukan kembali keempat elemen untuk mengembalikan kedamaian dunia. Sayangnya, Aang masih kecil. Dia belum mampu menguasai keempat elemen itu. Maka, petualangan Aang dan teman-teman dalam mempelajari semuanya pun dimulai.

Ah, perlukah kuceritakan semua sinopsisnya? Kurasa tidak perlu.

Satu hal yang membuatku tertarik mengikuti bujukan keponakan untuk menontonnya adalah 3D. Ya, di wallpaper-nya tertulis jelas 3D movie! Tapi, selama mengikuti adegan demi adegan, tidak kutemukan sisi 3D-nya. Owh, apakah karena posisi duduk kami yang tepat di barisan depan itu? ^^

Advertisements