By: Fietri Yulia

“Saya akan mengundurkan diri pada akhir bulan setelah menyelesaikan proyek ini.” Kalimat itu saya ucapkan kepada atasan di suatu siang. Pada waktu itu, beliau menanyakan kemungkinan saya akan dilibatkan pada proyek selanjutnya. Saya pun mengemukakan bahwa akan mengundurkan diri beserta alasan logisnya.

Terus terang berat meninggalkan pekerjaan. Ikatan emosional di antara karyawan sangat kental. Saya selalu ingat bagaimana saya dan rekan satu tim saling membantu ketika ada proyek. Kami selalu bisa tertawa di saat tekanan deadline. Saya pun ingat bagaimana rasa bangga ketika hasil pekerjaan kami dianggap baik. Di luar kantor, kami juga hang out bareng. Ya, itulah enaknya bekerja di bidang kreatif semacam editor buku. Alasan lainnya karena jarak usia kami yang tidak terlalu jauh sehingga gaya bercanda pun masih nyambung.

Pekerjaan ini adalah pekerjaan pertama bagi saya setelah lulus kuliah. Bayangan dunia kerja yang membosankan tidak terasa selama saya bekerja di sini. Di sinilah, saya semakin mengerti arti kedewasaan dan profesionalisme dalam konteks bekerja. Rasa sedih hinggap selama satu minggu terakhir di tempat kerja. Rasa takut kehilangan teman dan suasana yang menyenangkan ini terus bergelayut. Namun, hati telah mantap. Saya harus maju karena harapan masih terbuka lebar. Saya terlalu jengah dengan sistem kerja yang ada. Saat semua terasa stagnan, kita harus segera mempertanyakan apa yang kita cari dari sebuah pekerjaan. Hal yang saya cari adalah tantangan dan sistem kerja yang lebih fair. Bagi saya, solusinya adalah mengundurkan diri.

*****

Tulisan Mbak Fietri ini kutemukan di sebuah majalah. Pas banget dengan situasi yang akan kujalani akhir bulan ini. Meski mungkin ga banyak yang setuju dengan keputusan besar tersebut. Hmm… bukan hal yang bermanfaat ya posting beginian, tapi kurasa bisa menjadi inspirasi untuk menjadi lebih baik. Terutama jika nanti menjadi CEO (kapan ya??), kuharap bisa membawa suasana menyenangkan bagi karyawanku. Amin hehe

Advertisements