Awalnya, tulisan ini adalah tugas untuk mata kuliah Islam dan Sains yang diampu oleh Prof Mulyadhi Kartanegara. Tugas kuliah kok tidak berbentuk makalah? Entahlah, saking pusingnya mungkin, jadi kupilih untuk mengerjakannya dalam bentuk fiksi. Beliau sendiri memang menganjurkan menulis tema ‘Tuhan, Alam, dan Manusia’ dengan versi dan gaya masing-masing, bahkan boleh tanpa referensi. Bisa dikatakan dosen favoritku ini menginginkan mahasiswanya menulis refleksi mengenai tema itu.

Oiya, tulisan ini sudah pernah kuposting di multiply dengan judul yang sama. Hingga saat ini pun aku belum menemukan judulnya yang pas. hehe

Judulnya Apa, ya?

Alam nusantara memasuki musim penghujan. Sinar matahari tidak akan berani menerobos masuk seenaknya ke dalam ruang-ruang berkaca, karena ia sendiri tertutupi awan kelabu sepanjang hari. Tapi, percakapan di ruang belajar yang hangat membuat Vega lupa dengan semua itu. Pertanyaan dari sang kakak yang memulainya: Apa yang akan terjadi seandainya Tuhan tidak menciptakan matahari, hujan, bumi, manusia, dan semua yang tersaksikan hari ini?

Vega memang seorang calon pemikir sejati. Segala hal yang dilihat tidak pernah lepas dari analisisnya. Mulai dari perkara-perkara kecil sampai dengan yang besar selalu ia cari penyebabnya. Mengapa sesuatu hal mesti terjadi seperti ini atau seperti itu? Apakah akibatnya bila sesuatu hal tersebut tidak terjadi, apakah akan menambah kehancuran atau justru akan merubah sesuatu menjadi lebih baik?

Usianya masih muda, belum genap 25 tahun. Pada usianya kini, belum banyak pelajaran yang bisa dia ambil. Dia belum pernah merasakan kebahagiaan yang paling membahagiakan, dia pun belum pernah merasakan kesedihan yang paling menyedihkan. Dia hanya meyakini bahwa tidak mudah untuk menjadi manusia yang selalu bijaksana yang jika sedang berbahagia dia menikmatinya tidak berlebihan, dan jika sedang menghadapi kesulitan, dinikmatinya pula dengan senyuman. Dari literatur-literatur yang Vega baca sampai sekarang, dia dapat memahami bahwa setiap kejadian yang terjadi pada manusia hakikatnya berasal dari Tuhan, karena Tuhan mencintai umatnya. Kebahagiaan dan kesedihan, keduanya adalah cobaan. Tuhan memberikan cobaan kepada manusia agar manusia bisa mengukur kualitas keimanannya kepada Tuhan, agar mereka menjadi bertakwa.

Hari ini, Vega memegangi dahinya, wajahnya serius. Apa yang sedang dipikirkan Vega kali ini memang tidak seperti biasanya. Kali ini permasalahannya berat. Vega bertanya-tanya, apakah yang sedang dipikirkannya kali ini juga pernah dipikirkan oleh para pemikir hebat pada zaman-zaman sebelumnya. Dia tidak yakin jika yang sedang dipikirkannya kali ini adalah puncak dari segala pemikiran umat manusia. Dia sendiri pun tidak percaya jika harus memikirkan pertanyaan tersebut.

“Kamu pasti bisa menganalisa fenomena kehidupan ini.” Kakaknya memberi semangat.

“Ya, aku mencoba berfikir, apa sebenarnya alam dan siapa itu manusia. Jika manusia dan alam semesta ini tidak pernah ada, tentunya tidak akan pernah ada kehidupan. Jika tidak ada kehidupan, so what? Apa arti penting bagi Tuhan tentang ada dan tiadanya kehidupan?” kata Vega sambil tetap memegangi dahi di bawah kerudungnya.

“Itu adalah hipotesis kamu! Yang jelas, jika Tuhan tidak menciptakan alam semesta, nalar seorang manusia akan berpikir bahwa dunia ini akan sepi. Tapi, apakah Tuhan menciptakan alam semesta ini hanya untuk sebuah alasan kesepian? Apakah Tuhan merasakan kesepian seperti halnya manusia?” tanya kakaknya lagi.

“Tentu saja tidak.” Jawabnya yakin.

“Alasannya?” sang kakak tersenyum.

“Hmm… Tuhan adalah Maha Daya, manusia tidak layak disamakan dan dibanding-bandingkan dengan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan tidak akan merasakan penderitaan yang dirasakan manusia.” Jawabnya.

“Oke, Kakak yakin kamu sudah paham tentang itu. Tapi, kamu juga harus tahu bahwa pengetahuan kita tentang alam semesta sama dengan pengetahuan tentang diri kita, dan pengetahuan tentang jati diri ini tidak lain adalah pengetahuan tentang Tuhan.”

“Apakah ini berarti kita harus mengenal alam semesta sebagai jalan mengenal-Nya?” tanya Vega penasaran.

“Tepat sekali. Oleh karena itu, yang ada pada alam maupun dalam diri kita ini adalah ilmu Tuhan. Maka, semua yang kita lakukan pun pasti diketahui oleh-Nya.” Kakaknya berkata bijak.

“Aku mengerti.” Vega gembira.

“Sekarang, persoalan yang lainnya. Ketika kita menyaksikan berbagai makhluk memiliki indera dan mempersepsi gambaran sesuatu, kita mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup. Indera dan kemampuan untuk mempersepsi objek tersebut berasal dari mana? Jiwa, fisik yang memiliki jiwa, atau hanya fisik?” kembali pertanyaan keluar dari lidah kakaknya.

“Aku rasa jawabannya fisik yang memiliki jiwa, maksudku adalah otak. Tapi, mungkin baiknya kakak jelaskan saja padaku.”

“Baiklah, jawabannya adalah jiwa, sebab jika berasal dari fisik yang memiliki jiwa maka bagaimana mungkin hal tersebut terjadi pada saat yang sama fisik tidak lain merupakan objek yang dikendalikan jiwa*. Nah, kamu tahu, sebuah perahu bisa memberikan manfaat tertentu, akan tetapi manfaat tersebut sangat bergantung kepada kehadiran bentuk lain yaitu pendayung.”

Vega mengangguk.

“Ini berarti, sesuatu yang fisik dapat menghasilkan efek jika memerlukan bentuk yang lain selain dari dirinya sendiri, dan demikian terjadi seterusnya.” lanjut sang kakak. “Artinya, makna alam semesta, jiwa, kehidupan tidaklah sama, karena makna semesta tidak lain kecuali sebagai forma fisik yang keberadaannya didahului oleh forma lain sebagai sumber bagi keberadaan dan kehidupannya.” Katanya sambil ke luar ruangan.

“Apakah ini berarti keberadaan jiwa adalah bukti dari ilmu Tuhan tadi?” Vega semakin bingung sementara kakaknya sudah keluar rumah untuk melanjutkan aktivitas.

Ya, Vega bingung, tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Pertanyaan yang akan membuatnya semakin haus akan pengetahuan dan kebenaran. Vega menyadari benar bahwa inilah salah satu bukti keterbatasan manusia. Semua yang menjadi rahasia Tuhan, akan tetap menjadi rahasia Tuhan. Dia belum mau memikirkannya terlalu dalam, takut menyiksa sarafnya. Tapi, satu hal yang dia yakini sekali adalah alam ini diciptakan sebagai nikmat yang dikaruniakan Tuhan bagi manusia, maka apa ada sebab untuk tidak bersyukur?

* : Realitas Jiwa dalam teori eskatologi Mulla Sadra

Advertisements