Mahira menghela nafas panjang. Dia mencoba mengatur posisi duduk agar lebih nyaman. Diliriknya jam tangan mungil di tangannya, sudah pukul 07.25! Sudah satu jam lebih dia berada di bis ini. Lebih lama dari hari biasanya.

Mahira mulai memikirkan, sampai kapan rutinitas pagi yang tidak sehat itu harus ia jalani. Selepas shalat subuh dia harus bergegas berangkat ke tempat kerjanya yang terletak di tengah kota Jakarta. Rumahnya sendiri berlokasi di daerah Depok. Bayangkan saja, sarapan pagi pun terkadang dia lakukan di dalam kendaraan. Beruntung dia belum berkeluarga dan mempunyai anak.

Mahira memang tidak ingin menyewa sebuah kamar di sekitar kantor. Dia tidak begitu suka dengan lingkungan kota yang tampak tidak bersahabat begitu. Banyak rekannya yang mengatakan tinggal di kota sangat nyaman dan mudah mendapatkan informasi apa saja. Namun, menurut Mahira akan lebih nyaman jika tinggal di rumah sendiri. Meskipun harus menerima risiko besar menghabiskan waktu di jalanan seperti yang dia alami pagi ini.

Berkarir di ibukota bagi Mahira bukanlah obsesi besar. Sebuah keberuntungan saja dia bisa kuliah sambil bekerja di sana. Sebenarnya Mahira lebih menyukai berkegiatan sosial dan menghadapi orang-orang banyak di luar gedung yang menjulang tinggi. Namun, kesibukan kantor membuat agenda kegiatan sosialnya menjadi semakin berkurang.

Dalam lamunan di kursi bis, Mahira teringat dengan kunjungannya ke kediaman seorang tokoh besar tempo hari. Sierra Juli. Ya, siapa yang tidak kenal dengan guru besar yang juga penulis produktif itu. Untuk bisa membincangi tokoh idolanya tersebut, Mahira memanfaatkan posisinya sebagai koresponden lepas di sebuah media online.

Mahira kagum, betapa terampilnya Sierra Juli dalam memanfaatkan waktu. Selain sibuk sebagai dosen dan peneliti di sebuah perguruan tinggi, sosok wanita paruh baya itu ternyata seorang atlit karate. Belum ditambah dengan aktivitas kepenulisan pula.

“Saya berupaya menjadikan semua kegiatan sebagai ibadah. Hasilnya memang segalanya terasa ringan untuk dikerjakan dan waktu pun tidak tersia-siakan,”Itu kata-kata Sierra Juli yang masih terngiang di pikiran Mahira.

Mahira mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah dalam bis. Dilihatnya, dua penumpang yang duduk di sebelahnya tengah terlelap. Mereka berpakaian rapi dengan memeluk tas kerja yang terbuat dari kulit. Kompak sekali.

Mereka mungkin sama seperti dirinya, menghabiskan setiap pagi di dalam kendaraan umum hanya untuk mengejar karir di kota. Sungguh berat memang. Tapi, tentu akan menjadi ringan bila niatnya berbeda seperti yang disarankan Sierra Juli. Mahira tersenyum sendiri.

“Senayan!!teriak sopir bus menghentikan lamunan Mahira.

Mahira beranjak dari kursinya dan melangkah ke arah pintu. Beberapa orang di belakangnya pun melakukan hal yang sama.

***

“Serius lo, Ra?”bisik Vika sambil mendelik ke arah Mahira yang sedang sibuk membubuhkan tanda tangan di secarik kertas.

“Serius, nih surat pengunduran dirinya,”jawab Mahira kepada sahabatnya tersebut.

“Salut gue, berani lo nantangin Pak Joko. Terus, rencana lo selanjutnya apa?”tanyanya lagi.

“Banyak rencana, Ka. Nggak bisa disebut satu-satu,”ujar Mahira sambil berlalu dan pergi menuju ruangan atasannya. []

Advertisements