Ya Allah, selain kata yatim, tak kutemukan kata anak-anak terlantar dalam al-Qur’an. Tidak pula pernah kudengar kata itu dari para ustad di dalam ceramah-ceramah mereka.

Ya Allah, kusaksikan begitu banyak orang berbuat baik dan derma kepada anak yatim karena janji surga dan imbalan pahala yang begitu banyak, sebagaimana telah Engkau janjikan. Tapi aku bukan anak yatim, ya Allah, karena ayah dan ibuku masih hidup. Mereka berdua ada, walaupun kini tak bersamaku.

Ya Allah, anak-anak yang menjadi yatim kadang mendapatkan warisan dan perhatian, dari paman, bibi, dan sanak keluarganya. Sungguh jauh berbeda kondisi mereka denganku, karena aku memang bukan anak yatim melainkan telah diyatimkan oleh keluargaku, oleh ayah dan ibuku sendiri.

Ya Allah, dalam keterlantaran ini, aku merasa diriku sebagai makhluk yang tak berharga. Mungkin kelahiranku dianggap sebagai beban bagi manusia, padahal Engkau tahu, kelahiranku adalah semata kehendak-Mu, bukan kehendakku. Mengapa Engkau tidak menyebutkan anak terlantar dalam wahyu-Mu, sebagaimana kau sebutkan anak yatim di dalamnya?

Tiap malam datang, kurebahkan diri dan kurelakan kepala kecilku berbantalkan batu. Kudambakan mimpi indah dalam lelap tidurku yang berselimut angin, beralas trotoar, dan beratapkan langit. Dengan jiwa lelah, sungguh taburan gemintang-Mu yang indah menjadi tampak kelam di mataku. Dan mimpi-mimpi indah yang kudambakan, seakan enggan menjadi penghias dan bunga tidurku.

Bila pagi menjelang, terasa perutku mulai mengawali nyanyian rutinnya. Dengan langkah lemas dan gontai, aku terpaksa menjadi pengemis. Namun bila rasa ngilu perutku mulai menyiksa, sementara tak seorangpun peduli dan menitipkan secuil belas kasihnya kepadaku, saat itulah aku menjadi pemulung, pengamen, bahkan tanpa berpikir panjang, aku pun nekad menjadi pencopet.

Ya Allah, sebenarnya aku malu menceritakan semua derita yang kualami. Betapa lemahnya aku menolak perlakuan tak adil manusia-manusia bejat, hingga penindasan yang dilakukan para preman yang menjadikanku sapi perah penghasil rupiah buat mereka.

Ya Allah, kubayangkan betapa cerianya wajah-wajah anak seusiaku yang setiap pagi berangkat ke sekolah, ditemani ayah atau ibu mereka. Sementara aku mesti sibuk berkutat dengan urusan haus mulut dan lapar perutku. Saat itulah kadang kusadari, betapa nasib kami memang berbeda.

Bagaimana aku yang tak punya penjamin dan pelindung akan dipercaya sekolah manapun? Apa yang mesti kukatakan andai mereka bertanya siapa ayah-ibuku, dan dimanakah tempat tinggal atau rumahku? Bahkan bila keajaiban dapat terjadi, dengan tangan dan hati terbuka pihak sekolah mau menerimaku, bukankah untuk belajar dengan baik, aku memerlukan suasana hati yang tenang? Padahal ketenangan dan kedamaian itu, telah sekian lamanya terenggut paksa dari kehidupan masa kecilku.

Ya Allah, aku tak ubahnya bingkai potret yang terbuang karena telah pecah berkeping-keping. Tak mungkin kurasakan peluang untuk menjalani hari-hariku di panti asuhan, karena aku bukan anak yatim. Seringkali hatiku bertanya, apakah anak jalanan dan anak terlantar bukan bagian dari kehidupan manusia, sedang pada saat yang sama para anak yatim mendapatkan perhatian mereka? Apakah Kau sengaja memilihku untuk menjadi anak-anak terlantar, sementara anak-anak lain hidup ceria? Mengapa harus ada anak terlantar bila Kau ciptakan manusia untuk tujuan-tujuan mulia?

Ya Allah, saat aku sakit, apa yang mesti kuperbuat? Mana mungkin aku kan mengenal obat dan jarum suntik? Bukankah aku terlalu kotor untuk berada di dekat dokter dan perawat berbaju putih-bersih dan rapi itu? Apalagi bila kupaksakan diri datang ke hadapan mereka, mengeluhkan rasa sakit tanpa sepeserpun rupiah di genggamanku, bagaimana mungkin mereka akan menolehku?

Ya Allah, aku tak pernah beribadah karena selama ini memang tak ada yang mengajariku untuk itu. Bahkan seringkali aku ragu, apakah Engkau ada atau tiada, hingga aku perlu menyembah-Mu? Terkadang kuanggap kehidupanku ini tak berarti dan sia-sia. Aku hanya tinggal menunggu waktu seperti binatang yang tak tahu kapan nyawanya akan diambil. Tak ubahnya sapi dan kambing, yang tak tahu-menahu apa sebenarnya arti hari qurban bagi manusia, yang hendak memancing keridhaan dari-Mu.

Aku benci sejumlah kata, ya Allah. Dan setiap kata itu masuk ke dalam telinga dan menjalari jiwaku, tak ayal kemarahanku seketika meletup. Kata ‘ayah,’ ‘ibu,’ ‘saudara,’ dan ‘keluarga,’ bagiku adalah palsu. Semua itu tak lebih adalah kata-kata yang tak bermakna, karena aku benar-benar tidak tahu apakah aku ini hasil dari sebuah perkawinan yang sah ataukah aku seorang anak yang lahir dari hubungan main-main dua orang manusia.

Ya Allah, andai Engkau benar-benar ada, andaikan Engkau memang Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Iba, dan Maha Kasih, selain ayah dan ibu kandung yang telah pergi jauh dariku, maka hadirkanlah bagiku seorang ‘ayah’ dan seorang ‘ibu’ yang lain. Hadirkan mereka berdua untuk sekedar mengelus lembut kepalaku saat aku diterpa gelisah, mendekap tubuhku saat aku diserang rasa takut, mengingatkan dan menunjukkan arah yang benar ketika aku menyimpang dan nakal. Yang dengan tulus menyanjungku ketika aku berperilaku baik, yang membawaku ke dokter bila aku sakit, dan menguburkan jasadku andai saja nyawaku tak tertolong lagi. Kuinginkan semua itu, semata agar aku memiliki alasan berharga untuk melanjutkan hidup sebagai hamba-Mu.

Ya Allah, maafkan aku telah berdoa dengan cara anak jalanan, dengan bahasa yang tidak santun di atas trotoar di samping sampah berserak. Beri aku jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dalam benakku. Selamatkan aku, raih tanganku. Karena seperti yang lain, aku juga ingin punya masa depan, dan menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain di dunia ini.

(Disalin dari draft buku MUNAJAT ORANG-ORANG PINGGIRAN, akan diterbitkan TINTA) by: muhsin labib

Advertisements