Aku terlambat datang ke lokasi kegiatan pemberian bantuan itu. Hmm… sejujurnya, sebuah kesengajaan untuk tidak datang terlalu pagi hanya untuk’mengembangkan sayap si tuan besar’ yang sedang mencari muka ke masyarakat. Tapi, ternyata tidak terlalu terlambat seperti yang aku duga. Bersama rekanku dari kantor berita Antara, aku masih diberi kesempatan untuk mendekat dan sedikit wawancara dengan beliau. “Bla bla bla…,” sang raja mengumbar apa yang sudah dia kerjakan di pagi itu. Begitulah. Aku tidak begitu yakin, berita seremoni seperti ini akan diterbitkan esok hari.

Selepas liputan, aku langsung menuju ke pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) tepat di seberang lokasi kegiatan. Bukan sebuah kebetulan, hari itu tidak terlalu terik, suasana yang pas untuk mengambil gambar Jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Di pelataran BKB itu, aku berjumpa dengannya. Saat itu, dia sedang bersama rekan-rekannya sesama serang (pengemudi perahu kecil).

Dia lebih senang dipanggil Mang Cholil, katanya. Ya, Ketua Komunitas Pecinta Sungai Musi ini memang rendah hati. Mendengarnya memulai cerita dengan semangat, membuatku spontan turut duduk santai di pinggiran sungai kebanggaan wong kito itu. Angin berhembus sejuk di sekeliling kami. Mang Cholil menuturkan, meskipun hanya sebagai koordinator untuk lingkungan kecil, dia berupaya untuk berlaku adil kepada orang-orang di sekitarnya. Satu mimpi besar yang selalu ingin dilakukannya yaitu mengubah perilaku para pemimpin saat ini yang dinilainya sudah tidak menunjukkan rasa keadilan yang tinggi kepada rakyat. Bagi pemilik rumah rakit ini, pemimpin yang bisa disebut seorang yang adil adalah yang mau turun ke tengah masyarakat. Turut merasakan kebahagiaan dan kesulitan mereka yang berada di bawah. Menurutnya, pemimpin saat ini hanya tahu kondisi masyarakatnya hanya dari jendela gedung tinggi.

“Kalau boleh berandai-andai, andai aku jadi rajo, aku pasti punyo rumah di mano-mano. Ngapo? Kareno aku galak turun ke daerah-daerah tempat rakyat aku. Nah, macem itulah kiro-kiro seharusnyo pemimpin kito tu. Tahu kondisi rakyatnyo,”ujarnya dengan logat Palembang.

Perbincangan panjang kami harus berakhir, adzan sudah berkumandang dari Masjid Agung. Rekan-rekannya sudah menunggu di sana. Dengan senyum dikembang, dia mempersilahkanku untuk datang lagi kapan-kapan untuk berdiskusi.

Advertisements