Berjiwa Sosial Tinggi Bantu Warga Miskin

Dana bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III tahun 2012 mulai dicairkan bagi 13.901 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di beberapa wilayah kantor pos di kotaku, mulai Jumat (19/10) lalu. Untuk memastikan dana bantuan ini tepat sasaran, tanggung jawab seorang Pendamping PKH yang ditunjuk Kementerian Sosial tentu dipertaruhkan.

Dialah Rofiqoh, Pendamping PKH yang berjuang agar 520 RTSM di Kelurahan 1 Ulu Kecamatan Seberang Ulu (SU) I Palembang menerima dana PKH tersebut. Berbekal jiwa sosial tinggi, pemudi kelahiran Pamulutan 15 Oktober 1982 ini mendatangi satu persatu rumah RTSM di kelurahan ini.

Dengan membawa data nama-nama RTSM 1 Ulu dari Kementerian Sosial, Rofiqoh harus memastikan kondisi warga memang sesuai dengan kriteria penerima PKH. Umumnya RTSM yang dia temui memang warga miskin yang takut untuk berobat, periksa kehamilan, atau melahirkan dengan para tenaga kesehatan karena alasan biaya. Anak-anak usia sekolah pun terkadang harus mundur dari sekolahnya karena alasan yang sama. Untuk kelancaran pencairan dana PKH ini, dia harus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan puskesmas terkait untuk memverfikasi syarat yang harus dipenuhi RTSM setiap tiga bulan sekali.

Tugasnya pun tidak hanya itu. Saat jadwal pencairan dana PKH tiba, Rofiqoh harus mendampingi penuh para RTSM ke kantor pos pelayanan, agar dana yang menjadi hak mereka benar-benar sampai. Kini, Rofiqoh pun dikenal baik warga Kelurahan 1 Ulu. Bukan karena posisinya bak malaikat penolong, tapi sosok muda yang satu ini memang patut dijadikan inspirasi bagi warga untuk mengubah pola pikir agar dapat bangkit dari kemiskinan.

Jumlah 520 terhitung sangat banyak untuk didampingi oleh seorang pendamping PKH perempuan. Padahal dari data pihak Dinas Sosial Palembang, umumnya satu pendamping PKH diberi tanggung jawab untuk 300-an RTSM. Meski demikian, anak keempat dari tujuh bersaudara ini tidak patah semangat. Angka tersebut, dianggapnya sebagai tantangan untuk bekerja jujur dan ikhlas demi kebermanfaatan sosial. Tantangan itu dihadapinya dengan membuat sendiri beragam program untuk para RTSM. Setiap minggu, digelar pertemuan 520 RTSM yang dia bagi dalam 20 kelompok. Dalam pertemuan ini, alumni Fakultas Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Raden Fattah ini memanfaatkannya untuk memberikan pengarahan dalam bentuk pengajian, arisan, atau pelatihan kerajinan tangan bagi para ibu.

“Saya ingin warga bisa mengubah pola pikirnya untuk lebih maju. Tidak harus menunggu bantuan. Hal ini cukup berhasil. Dari 537 RTSM pada tahap sebelumnya, sekarang sudah berkurang jadi 520,”tuturnya kepadaku.

Dari kegiatan mendampingi keluarga RTSM ini, Rofiqoh tetap mensyukuri apa yang sudah diterima. Sebab, sesulit apapun kondisi yang dihadapi, penghiburan besar justru datang dari RTSM. Dengan melihat kehidupan keluarga miskin di sana, dia menyadari bahwa di balik kesulitan masih banyak yang hidupnya lebih sulit.

Dia berharap, langkah mulia yang telah dicanangkan oleh pemerintah dalam program ini mampu menjadi program permanen, sampai batas penduduk miskin yang ada di Indoneisa berkurang. “Itu semangat saya di lapangan dalam menjalankan tugas pendampingan. Saya juga berharap, pola pikir masyarakat miskin ini bisa berubah, sehingga kesejahteraan mereka dapat terangkat,”tukasnya.

foto dan teks: yulia savitri

*terbit di Harian Seputar Indonesia Biro Sumsel edisi Senin (22/10)

Advertisements