Setelah puas berkeliling seperti dalam postingan sebelumnya, kami pun tiba di Twin Hotel Bangkok untuk melepas lelah. Di sini pun saya masih bisa menemukan makanan halal. Nasi dan telur mata sapi yang tidak digoreng dengan minyak (tapi dibakar) beserta lalapan, saya rasa cukup untuk sarapan halal di pagi hari. Di sana, disediakan pula sayur untuk muslim dan roti untuk pilihan lainnya. Meski begitu, saya tetap mengonsumsi makanan ringan yang dibawa dari Indonesia 😀

Esok harinya di pukul 09.00 waktu setempat, saatnya kami melanjutkan perjalanan wisata, yakni ke Grand Palace, Wat Arun, dan terakhir ke MBK (Mah Boon Krong). Saya tidak membeli makanan selama berkeliling di dua tempat wisata yang pertama, hanya buah semangka segar dan kelapa muda yang rasanya manis untuk melepas dahaga. Sebab, di sana kami lebih memilih menikmati indahnya destinasi yang ditawarkan dari wisata budaya Thailand.

*Grand Palace

Grand Palace sendiri bukan istana tempat tinggal Raja Thailand dan keluarga, tapi memang difungsikan sebagai tempat wisata dan acara resmi kerajaan. Di sini, ada Phra Sri Rathana Ched yang seperti kubah emas dan Phra Mondop yang dulunya diperuntukkan sebagai perpustakaan. Lalu, ada pula Phrasat Phra Thep Bidon yang detail tiangnya ditempel kaca, serta Wat Phra Kaew tempat sucinya Emerald Budha. Hampir semua ornamen di Grand Palace ini terbuat dari emas.

Emerald Budha di Wat Phra Kaew ini diakui sebagai patung budha yang paling suci di Thailand. Patungnya terbuat dari batu giok dan diletakkan di sebuah tempat berundak tinggi. Sebagai bentuk penghormatan, digelar upacara penggantian baju sang budha sesuai dengan musim yang ada. Orang yang berhak menggantinya pun hanya raja. Banyak wisatawan Budhist yang mengambil berkat di sini. Mulai dari memercikkan air suci dengan bunga ke atas kepala hingga berdoa di depan Emerald Budha. Sekeluarnya dari Wat Phra Kaew, kami langsung diajak masuk ke kompleks sebelah Grand Palace. Di sini suasananya kontras sekali dengan nuansa emas sebelumnya, karena semua bergaya eropa dan bercat putih.

*Wat Arun

Dari kompleks Grand Palace, kami langsung menuju ke pelabuhan di pinggir Sungai Chao Phraya untuk naik perahu menuju ke Wat Arun. Di Wat Arun, saya tidak mendapat kesempatan untuk menaiki seribu tangga kuilnya karena waktu yang diberikan memang sangat singkat. Rekan-rekan pun langsung menuju lokasi penjualan sovenir yang bisa menggunakan rupiah dengan harga murah.

Nah, di sini kami diajak untuk memberi makan ikan-ikan patin raksasa. Bayangkan saja, ikan patin di kotaku biasanya dimasak untuk jadi pindang, ini malah diberi makan roti *tepokjidat 😀 😀

 

*Hati-Hati Bahannya

So, apakah sulit mencari makanan atau masakan yang berbahan halal untuk muslim/muslimah di Negeri Gajah Putih? Yang pasti, harus teliti dengan baik. Saling mengingatkan saja dengan rekan seperjalananmu. Oke sip!

photo by: @pena_lia dan @phen_bandel 😉

Advertisements