Liburan mungkin cara yang paling tepat untuk refreshing dari rutinitas harian. Beruntung, beberapa teman kos saat di Bandung dulu saling kontak dan menawarkan liburan seru bareng mereka. Kebetulan mereka mendapatkan diskon akhir tahun untuk tiket kereta. Tak perlu pikir panjang, segera kuisi kertas cuti kantor untuk beberapa hari dan minta izin ke orang tua untuk berangkat.

Liburan ke Bandung?
Bukan, Bandung cuma jadi lokasi kami untuk berkumpul. Sebab, tempat tinggal mereka semua juga bukan di Bandung, satu dari Bekasi, Cirebon, dan Kediri. Sementara aku domisili Palembang. Kami janji ketemu di stasiun Bandung untuk berangkat ke Kediri dengan kereta. Mencoba pengalaman jadi backpacker.

Untuk menuju Bandung tentu aku harus menyeberang pulau. Tapi, sayang tiket yang murah dan waktu yang tepat saat itu hanya menuju Jakarta. Kalau aku naik bus atau kapal, tentu butuh waktu yang lebih lama. Tak masalah, dari bandara Soekarno Hatta aku bisa lanjut ke Bandung dengan bus. Menurutku, ini baru petualangan menggunakan moda transportasi yang terintegrasi, pesawat-bus-motor-kereta. Motor? Hha…dari pool bus ke stasiun naik ojek karena kondisi sore Bandung macetnya luar biasa.

Ajang Reuni

Aku tiba di Stasiun Bandung tepat setengah jam sebelum jadwal keberangkatan. Teman-teman sudah ada di sana. Mereka ini tidak banyak perubahan, hanya Teh Fenti yang semakin cantik karena sudah memakai hijab. Sembari menunggu kereta tujuan Kediri yang tengah bersiap-siap, kami bercengkerama dan foto-foto di dekat rel.

Ya, mereka sudah seperti saudara karena pernah satu atap di kosan Ibu Iyam di Kalapa Bandung. Kenapa jadi anak kos Bandung? Saat itu, aku masih tercatat sebagai mahasiswi akhir di Unpad yang nyambil jadi freelance editor di media yang berkantor di Bandung, dan sibuk mengikuti pendidikan bahasa arab di Ma’had Imarat. Karena jadwal di Imarat pagi buta, kuputuskan untuk mencari kosan di seputaran lembaga tersebut, biar tidak sering terlambat. Kosan Ibu Iyam pilihannya. Banyak kejadian yang kualami di rumah kosan bergaya belanda itu. Rumah besar tua yang hanya ditunggu seorang ibu paruh baya. Kamarnya banyak dan berlorong gelap.

Oke, balik ke trip di stasiun. Sembilan jam perjalanan Bandung- Kediri yang kami tempuh. Subhanallah, dua provinsi kulewati begitu saja; Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hei, itu Stasiun Balapan yang terkenal itu. Whuaa… ada yang jual pecel di stasiun pada tengah malam?! Banyak hal berkesan yang kutemui.

Tiba di stasiun Kediri pukul 04.00 wib pagi. Mbak Luthfi sudah menunggu kami dengan mobil menuju rumah keluarganya. Beruntungnya kami, bisa traveling dengan serba gratis begitu. Dijamin, istirahat, mandi, dan makan bakal tersedia tanpa perlu mengeluarkan biaya lebih banyak.

Rumah temanku ini di Desa Brenggolo, Plosoklaten Kabupaten Kediri. Daerahnya masih alami dan sangat asri. Posisi rumahnya kebetulan dekat pasar. Jadi, pagi-pagi itu, kami bisa melihat-lihat apa saja yang khas dari desa ini, mulai dari domba sampai jajanan pasarnya. Jajanan yang kusuka yaitu jenang, harganya cuma Rp2000, enak. Aku juga berkenalan dengan ungkusan atau botok dengan isi sembuan. Ini sejenis tanaman merambat yang dibumbui kelapa muda, bawang putih, dan kencur. Disebut ungkusan karena ia dibalut daun. Harganya juga Rp2000. Benar-benar jajanan pasar yang sehat.

Legenda Penolakan Cinta
Di Kediri, kami diajak berwisata ke Gunung Kelud. Di sini, disuguhkan pemandangan tiga puncak gunungnya. Ada pula tebing vertikal yang cocok untuk mereka yang suka panjat tebing. Tidak curam tapi cukup menantang.

Pemandangan Anak Gunung Kelud Nan Cantik

Pemandangan Anak Gunung Kelud Nan Cantik

Yang terkenal dari gunung ini adalah kawahnya yang mendadak mengeluarkan anak gunung. Hingga kini, anak Gunung Kelud masih aktif dan terus mengeluarkan bara dan asapnya. Diprediksi akan terus meninggi. Subhanallah. Tapi, sebelum menuju lokasinya, kami harus melewati petualangan singkat melewati terowongan ampera. Lumayan, untuk uji keberanian dalam gelap. Rasanya lebih panjang dari Gua Jepang di Bandung. Tak hanya itu, kami juga menjajal kaki di ratusan anak tangga untuk menuju kawahnya.

Untuk menarik wisatawan, diperkenalkanlah legenda Dewi Kilisuci dan Lembu Suro. Kisahnya kutemukan di teater sejarah yang berlokasi tepat di dekat gerbang masuk wisata Gunung Kelud. Terkisah, hiduplah Dewi Kilisuci yang cantik dan memikat banyak ksatria. Tak terkecuali dua orang raja dari bangsa bukan manusia biasa, yaitu Lembu Suro dan Mahesa Suro.

Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu sulit untuk menolaknya. Untuk itu, dibuatlah sayembara yang dipastikan tidak ada yang mampu memenangkannya. Sayembara yang dipikir tidak masuk akal yakni membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud. Disyaratkan, yang satu harus berbau amis dan satu lagi wangi. Kedua sumur ini harus dikerjakan dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam berkokok.

Seribu anak tangga menuju kawah air panas, di kawasan Gunung Kelud.

Seribu anak tangga menuju kawah air panas, di kawasan Gunung Kelud.

Namun, karena Lembu Suro dan Mahesa sangat sakti, permintaan itu terpenuhi. Tapi, dengan kecerdikannya, Dewi Kilisuci berhasil menghindari pinangan kedua raja tersebut. Sepenggal cerita rakyat yang mendasari letusan Gunung Kelud yang dianggap sebagai amarah Lembu Suro. Legenda cinta Gunung Kelud yang memikat.

Makam Bung Karno
Tidak hanya berjalan-jalan di Kediri. Kami juga diajak ke Blitar, melihat makam dan museum Bung Karno. Karena kurang fanatik dengan tokoh nasional yang satu ini, aku tidak begitu menggebu untuk berfoto atau menggali lebih dalam tentang makam dan museum tersebut. Bahkan sempat aku lupa kalau pernah ke Blitar.

Hingga suatu hari temanku yang mengidolakan Bung Karno sempat menginterogasi:
“Pernah ke makamnya?”
“Iyo,”
“Pernah masuk ke museum yang ada patung besarnya itu?”
“Iyo”
“Itu artinya Lia sudah di Blitar, Neng,”tangisnya haru, hahaha.

Berpose di sisi Timur Candi Penataran, Jatim.

Berpose di sisi Timur Candi Penataran, Jatim.

Di Blitar, kami juga mampir ke Candi Penataran. Bangunan candinya kecil dengan lahan yang luas. Tidak ada cerita khusus terkait budaya atau peninggalan candinya. Malas tanya-tanya pemandu di kawasan candi karena kondisi sudah siang dan panas luar biasa. Kasihan pula melihat bunda Mbak Luthfi yang menunggu lama di area bawah candi.

Satu lagi lokasi yang tidak bisa dilupakan, yakni pintu gerbang Kota Kediri. Semacam tugu selamat datang, tapi bergaya Eropa dengan empat pilar raksasa. Lokasinya yang tepat di tengah kota menjadi alun-alun atau tempat berkumpul masyarakat Kediri. Malam hari ramainya luar biasa. Ada yang bawa keluarga kecilnya hingga anak-anak muda dan komunitasnya.

hehe

Advertisements