Terkadang aku menemukan idealisme yang ditertawakan. Banyak sikap intoleransi yang menjadi akibatnya. Tidak sedikit pula kutemukan mereka yang akhirnya beralih dari idealisme tersebut. Tak ada pertahanan sama sekali.

Seperti yang kutemukan dalam dunia hijab. Ada beberapa rekan di kampus dulu yang fanatik sekali dengan syariat yang ia yakini, terutama dalam hal menutup aurat. Jilbab panjang, baju lebar, dan kaos kaki menjadi senjata utama dalam pergaulannya. Memasuki masa kuliah kerja nyata (KKN), idealisme sosok muslimah yang ia pegang ini berjumpa dengan ujiannya.

vice president iran 2

Layaknya KKN mahasiswa pada umumnya, dia dan teman-teman harus berbagi ruang di satu rumah milik kepala desa. Interaksi dan kegiatan akan berpusat di sana. Praktis, si teman mesti mempertahankan caranya berpakaian tersebut meski di dalam rumah sekalipun. Hal ini dianggap aneh dan merepotkan bagi sebagian mereka yang ada di sana. Tapi, Allah menjaganya. Dia bisa memperjuangkan idealismenya itu selama beberapa bulan. “Idealisme itu benar-benar diuji,”ujarnya saat itu.

Berbeda dengan sebagian rekan jurnalis yang kutemui di lapangan. Mereka yang rata-rata sudah terbilang wartawan senior ini sudah tidak peduli lagi dengan idealisme profesi. Seakan menutup mata pada kode etik jurnalistik yang sudah ada. Akibatnya, para junior pun turut mengekor dan berlaku sama.

Secara objektif, aku melihat ini bukan sebagai keseragaman. Bisa jadi sebagian mereka memang tidak paham pada kode etik yang ada. Sebagian lagi mungkin karena faktor kebutuhan yang mendesak. Parahnya, ada sebagian lainnya yang memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan pribadi.

Pernah suatu hari, di jam-jam maut (deadline), kepala biro media tempatku bekerja mengajak ngobrol berdua. Kami membahas banyak hal, tentang kondisi memburu berita dan berujung masalah idealisme jurnalistik. Diakuinya, saat ini media-media membutuhkan pemerintah sebagai penyokong bisnis. Hal ini tentu berakibat pada goyahnya independesi media itu sendiri. Padahal, sesuai kode etik jurnalistik, independensi sebuah media dibutuhkan sebagai kontrol sosial dan kebijakan pemerintah.

kakek

Bukan cuma media, pribadi-pribadi yang ada di dalamnya khususnya para jurnalis seharusnya bisa menghargai profesi. Meski secara psikologis dekat dengan kepala daerah setempat. Tapi, fakta di lapangan sudah terbalik sekian derajat. Idealisme itu kini hanya jadi sekedar teori. Beliau sendiri sudah mendalami jurnalisme sejak 1990-an di Tempo. Itu artinya pengalamannya banyak dan luar biasa. Sayangnya, roda bisnis sudah menerjang idealisme yang ia miliki dan mungkin rekan-rekannya yang lain. Dia kini liar dan loyal dengan tokoh daerah yang haus publikasi.

November 2013, dunia media dihebohkan dengan tulisan seorang anonim dengan nama pena Jilbab Hitam. Dia mengaku sebagai mantan wartawan Tempo. Secara blak-blakan, si Jilbab Hitam mengungkap segala permainan uang dalam pemberitaan yang melibatkan medianya. Tulisannya tersebut diposting di web kompasiana dengan judul ‘Tempo dan Kata Data Memeras Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas’.

Tempo memang dikenal sebagai majalah yang sering mengungkap kasus penyelewengan di Indonesia. Menanggapi tulisan tersebut, media yang berani dan independen ini sampai menurunkan lima tulisan sebagai berita terpopuler harian untuk membantah tulisan tersebut. Bahkan tulisan si Jilbab Hitam ini dinilai provokatif oleh pihak Kompasiana sendiri. Adapun judul lima berita di tempo.co diantaranya ‘Dituding Peras Mandiri, Ini Jawaban Tempo’ dan ‘Ini Kejanggalan Tuduhan Jilbab Hitam pada Tempo’.

Idealisme yang diuji. Sayang, si Jilbab Hitam mengaku senang sudah berada di luar sangkar idealisme itu. Bahkan melepas kesempatan untuk menunjukkan bahwa masih ada yang objektif dan mampu berdiri pada idealismenya.

***

Advertisements