ASAP ii

Selamat datang di Palembang, kawan. Silahkan jumpai hal-hal menarik di sini.

Sebelumnya, kau harus tahu, kelabu di kotaku bukan karena mendung menggelayuti langit. Itu pekatnya kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan. Sudah dua bulan terakhir warga kehilangan udara segar. Bisa kau rasakan tidak nyamannya menghirup udara bercampur asap setiap hari.

Asap ini mengakibatkan banyak aktivitas ekonomi dan sosial terganggu. Jarak pandang terbatas, kesehatan menurun, sekolah diliburkan, bahkan Idul Adha lalu wong Palembang ‘kurban’ kesehatan. Parahnya, bencana ekologi ini terjadi setiap tahun.

Upaya Pemda menanggulangi asap memang sudah ada, tapi dirasa masih tidak memberi banyak pengaruh, sebab berhektar-hektar lahan yang terbakar. Kenapa tidak ada pencegahan sebelumnya? Entahlah, aturan dan penegakan hukum selalu terlambat dan diyakini masih ada perlindungan dari mereka yang berkuasa.  Pastinya, kami tidak bisa berbuat banyak. Dengan kepungan asap ini, kami hanya mampu berdoa dan berharap agar bisa ‘hidup’ di sini.

Aksi terkait kabut asap sudah banyak digelar berbagai kalangan masyarakat, mulai dari aktifis lingkungan hingga mahasiswa. Tidak ketinggalan, puluhan siswa Home Schooling Group (HSG) SD Khoiru Ummah Palembang menggelar aksi pembacaan puisi dan surat untuk Presiden RI terkait kabut asap, kemarin. Salah satu siswa, Fauziah Ramadhani, misalnya. Siswi kelas VI HSG SD Khoiru Ummah ini membacakan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo di halaman sekolahnya. Dalam suratnya, dia menyindir kepala negara karena tidak ikut menghirup udara seperti yang dialami anak-anak dan kurang tegas dalam menindak pelaku pembakaran lahan.

“Kami berharap bapak presiden meluangkan waktu sedikit untuk membaca surat ini,” harapnya.

ASAP

Para pelajar berangkat sekolah dengan perahu di Sungai Musi Palembang yang diselimuti asap.

Problem kabut asap memang berdampak besar bagi kegiatan pendidikan. Bahkan beberapa waktu lalu, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Palembang sudah dua kali mengeluarkan instruksi libur sekolah karena tidak ingin siswa terkena dampak buruknya. Namun ‘liburan asap’ tidak bisa terus dilakukan meskipun bencana kabut asap ini belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Proses belajar mengajar tetap harus berjalan, kan?

foto: kak shaful, sindonews

Advertisements