Resensi Buku

Oleh: Yulia Savitri

Judul Buku               : Sirkus Pohon

Penulis                      : Andrea Hirata

Penerbit                    : Bentang

Tahun Terbit            : 2017

Tebal                          : 383 halaman

Novel ke-10 Andrea Hirata ini sebelumnya tak berani kubaca langsung meski sudah berada di tangan. Sebab aku yakin, isi kalimat-kalimatnya pasti punya kekuatan magis yang sangat memikat. Melihat sampulnya yang ceria saja membuat hati berdebar. Kiranya kejutan apa yang akan dipersembahkan Doctor Honoris Causa bidang sastra dari University of Warwick, United Kingdom tersebut, pada karya terbarunya kali ini?
Benar saja, dari lembar pertama cerita, keunikan khas Andrea sudah terasa. Pembaca mendadak akan fasih berbahasa melayu Belitung! Lebih dari itu, setiap benda, tanaman, hingga hewan-hewan seakan mempunyai karakter dan laku layaknya manusia. Tak pernah terbayangkan jika bunga anggrek suka menangis dan tertawa, atau seekor tokek yang sangat besar, tua, dan buncit adalah hewan yang gampang tersinggung. Lalu, bagaimana bisa pohon delima sangat gembira ketika dipikul beramai-ramai dan menjadi hiburan rakyat jelata.

Inilah kekuatan diksi dari seorang Andrea Hirata. Ia mampu menggambarkan detil semua makhluk dalam bukunya ini dengan kalimatsederhana tapi tidak biasa. Kisah kasih burung kutilang saja ditulisnya berlembar-lembar, apalagi kisah awal tumbuhnya si pohon delima, jangan terkejut, berhasil ditulis dalam satu bab! Pembaca bagai tersihir dan menyaksikan dengan jelas proses fotosintesis delima hingga menjadi pohon dan menyapa dunia. (halaman 140 – 143)

Judul Sirkus Pohon memang bermakna harfiah yang menceritakan tentang pohon delima dan getir kehidupan di sekitarnya. Namun, novel ini bukanlah cerita fabel. Anak manusia menjadi tokoh utamanya, bahkan sangat banyak tokoh manusia yang diceritakan. Menariknya, pembaca dituntut untuk menciptakan sendiri panggung dan alurcerita dari setiap tokoh. Bagaimana tidak, Andrea dengan jenius menulis dengan teknik bercerita sintetik, yakni menggabungkan cerita yang berbeda dalam satu struktur.

Sebut saja ada tokoh Hobri, pemilik pohon delima, di awal cerita. Diuraikan  dengan kocak bagaimana kisah hidup Hobri yang polos ini hingga akhirnya menjadi badut. Tapi di sisi lain, diceritakan pula kisah cinta yang berliku antara Pembela dan Layang-Layang, tokoh di luar kehidupan Hobri. Adapula tokoh Taripol Mafia yang akan membuat geram dan berdecak. Cerita kehidupan yang unik dari setiap tokoh  berhamburan di setiap bab.

Adapun benang merah dari kisah-kisah itu adalah sirkus. Silahkan tebak bagaimana serunya menghubungkan antara cerita pohon delima, badut, cinta monyet, mafia, dan sirkus. Lalu, kejutan apa dari aksi sirkus pohon?

Berbeda dengan cara penulis lain yang juga pernah menulis dengan teknik sintetik. Pada novel ini, Andrea memaksa pembaca untuk masuk ke sudut pandang yang berbeda pada masing-masing tokoh. Sudut pandang orang pertama dan ketiga dalam satu novel tentu akan menjadi tantangan tersendiri.

Di luar teknik menulis, dalam Sirkus Pohon ini Andrea Hirata tetap menunjukkan cintanya pada budaya dan kearifan lokal daerah Belitung. Ia bisa selamanya dinobatkan sebagai penulis yang menyoroti kehidupan rakyat biasa serta orang-orang yang tidak pernah diperhitungkan. Istimewanya adalah pada karya kali ini Andrea mulai menyinggung sedikit tentang dunia politik, meski dengan cara halus dan membumi tentang pemilihan kepala desa.

Dengan ketebalan 383 halaman, pembaca tidak akan tersedak membaca novel yang disiapkan menjadi trilogi ini. Sebab, Penerbit Bentang membagi cerita dalam 87 bab, dimana setiap bab disajikan hanya dalam 3-4 halaman saja. Tampilan perhalaman pun sangat nyaman di mata, lengkap dengan ilustrasi manis bertema sirkus.

Tidak ada celah buruk dari novel ini, kecuali bagi mereka yang tidak suka membaca tulisan bersayap. Kalaupun dipersiapkan untuk dibuatkan film, tampaknya calon sutradara perlu ekstra keras mewujudkan panggung-panggung cerita yang sudah ada dalam bayangan pembaca Sirkus Pohon.

Karya Andrea Hirata memang menginsipirasi. Pembaca setianya pasti akan sangat terguncang bila mendengar kabar kalau trilogi Sirkus Pohon akan menjadi karya popular terakhir Pak Cik Andrea.

***

Advertisements