Judul Puisi: Duka Sedalam Cinta

Penulis: Helvy Tiana Rosa

Genre: Kumpulan Puisi

Penerbit: Asma Nadia Publishing House

 

Duka yang identik dengan kesedihan ternyata mampu disandingkan dengan cinta yang penuh dengan kegembiraan. Judul yang puitis dan susah untuk didefinisikan ini menjadi pilihan Helvy Tiana Rosa untuk buku puisi terbarunya.

Tentu saja ini bukan buku puisi sembarangan. Buku ini adalah sebuah kumpulan puisi terbaru dari Helvy yang diperuntukkan untuk menyambut tayangnya sekuel film layar Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Sebuah kejutan, film produksi KMGP Pictures itu juga diberi judul Duka Sedalam Cinta. Bisa dikatakan, puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan napas yang sama dengan filmnya.

Terdapat 34 puisi terbaru yang dirangkai dengan indah dan penuh makna oleh beliau. Puisi persembahan Helvy untuk Mas Pepeng yang menyentuh bisa dinikmati di dalam buku ini. Tak hanya itu terdapat juga lima puisi yang ditulis oleh penulis tamu yang hadir di buku tersebut.  Kelima puisi yang ditulis oleh penulis tamu tersebut yaitu puisi ‘Cemburu’ yang didedikasikan untuk para syuhada kecil di Palestina dan Surian. Puisi tersebut ditulis oleh Hamas Syahid pemeran sosok Mas Gagah dalam film KMGP dan Duka Sedalam Cinta.

Ada juga puisi berjudul ‘Sempurna Dengannya’ yang ditulis oleh Aquino Umar pemeran Gita Ayu Pratiwi. Sementara itu, Masaji Wijayanto yang memerankan sosok Yudi di filmnya juga menulis puisi berjudul ‘Rumah Sakit’. Lalu, ada karya Izzah Ajrina pemeran Nadia Hayuningtyas menulis puisi berjudul ‘Tabah Menawar Duka’. Tak ketinggalan sosok ustadz kharismatik yang juga berperan menjadi seorang kyai di fim Duka Sedalam Cinta, Salim A Fillah juga ikut menyumbangkan satu karya puisinya yang berjudul ‘Duka Sang Dipa Sedalam Cintanya Pada Negara’ ikut melengkapi puisi-puisi dalam buku ini.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Asma Nadia Publishing House ini bahkan mendapat tanggapan positif terutama dari pembaca setia karya-karya Bunda Helvy Tiana Rosa yang tergabung dalam Helviers (Helvy Tiana Rosa Friends) yang merupakan fans base beliau.

 

Ketika Film Dakwah Masuk Bioskop

Film Duka Sedalam Cinta (DSC) garapan KMGP Pictures akhirnya diputar di bioskop, pertengahan Oktober 2017. Istimewanya, film bergenre religi tersebut disambut antusias para aktivis dakwah dan masyarakat, khususnya di Kota Palembang. Besarnya antusias masyarakat untuk menonton film ini terbukti dari terjual habisnya (sold out) tiket pada penayangan perdana di Cinemaxx Palembang Icon Mal, Kamis (19/10).

Hal ini dibenarkan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Palembang, Novhita S. Malihah yang mengatakan, pihaknya bersama Komunitas Pecinta Film Islami (Kopfi) Palembang menggelar nonton bareng (nobar) pada hari pertama penayangannya tersebut. Meski tidak mendatangkan pemain ataupun penulisnya, ia mengakui antusias masyarakat untuk menonton cukup besar. “Hari pertama sold out, kami harapkan studio penuh terus untuk besok-besoknya,”ujar Novhita kepada AsSajidin.

Salah satu alasan disambut antusias, karena film dakwah yang satu ini mendapat dukungan banyak bintang. Sebut saja Wulan Guritno, Mathias Muchus, Chikita Fawzi, Ali Syakieb, Endy Arfian, Abdur Arsyad, dan Epy Kusnandar. Dihadirkan juga penampilan ustadz muda kondang Salim A Fillah dan novelis Asma Nadia.

Ini tentu selain para pemeran utama yang terdiri dari empat bintang baru, yaitu Hamas Syahid, Aquino Umar, Masaji Wijayanto dan Izzah Ajrina. Menariknya, Masaji yang merupakan model dan artis berperan sebagai pendakwah jalanan dalam DSC, padahal anak muda tersebut mengaku justru ia baru belajar Islam di film ini. Sementara Aquino Umar tiba-tiba memutuskan mengenakan jilbab usai shooting.

“Saya tertarik untuk menonton karena ini film kedua dari sekuel film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) yang tayang Januari 2016 lalu,”tutur Nopi, salah satu penonton.

Ya, film yang disutradarai oleh Firman Syah ini merupakan film kedua untuk film KMGP, sebuah adaptasi novel karya Helvy Tiana Rosa. Awalnya diberi judul KMGP 2, namun dengan banyak pertimbangan dipilihlah judul DSC. Ceritanya sendiri berkisah tentang hubungan abang adik yang renggang gara-gara perubahan sang abang sepulang dari sebuah pesantren di Maluku Utara. Dengan cerita yang mendidik, pemilihan latar yang apik, dan pemain yang mumpuni, tak heran jika antusias penonton cukup besar. Terutama mereka yang sudah menonton KMGP.

Dihubungi terpisah, Koordinator Bidang Humpubdok Kopfi Palembang, Masayu Rochma Agustia Anwar kepada penulis mengatakan, dia dan komunitasnya sangat mendukung film-film dakwah yang mempertahankan syariat Islam. Menurut dia, film yang baik tidak perlu mengumbar aurat dan kontak fisik antara pemain yang bukan mahrom. Pihaknya juga berharap masyarakat dapat mendukung dakwah melalui dunia perfilman seperti ini.

“Produser dan sutradara film DSC hebat! Film ini bisa menyampaikan makna dan kesan yang menyentuh untuk penontonnya tanpa harus melanggar syariat Islam seperti bersentuhan antar pemain yang non mahrom,”ulasnya. yulia savitri

 

Advertisements