Hai kawan, kau harus tahu, berdasarkan hasil survei internasional dari Central Connecticut State University yang dirilis pada Maret 2016 lalu, disebutkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Itu artinya minat baca di negeri ini berada di posisi kedua terendah tingkat dunia.

Separah itukah? Tak perlu dibahas apa penyebabnya. Hal utama yang harus dilakukan adalah mengembalikan minat baca itu. Konten bacaaan yang sehat, menarik, dan mencerahkan juga harus diperbanyak. Kalau memang harus menyesuaikan zaman, kenapa tidak bentuk bacaan kita digantikan dalam bentuk teknologi, e book yang diperbanyak misalnya, atau bisa jadi ada bentuk inovasi baru lainnya.

Tapi jujur, aku sendiri masih sangat suka harum lembaran sebuah buku. Kau harus percaya, membolak-balik halaman buku adalah suatu hal yang menyenangkan. Aku yakin, masih banyak orang-orang yang punya hobi seperti itu. Lagipula usaha penerbitan buku masih banyak berdiri dan toko buku juga terus bertumbuh.

Beruntung, di tahun 2018 ini masih ada komunitas-komunitas yang aktif dalam menghidupkan gerakan gemar membaca. Menimbulkan kesadaran untuk kembali ke buku. Mulai dari Kota Banten ada rumah dunia yang digagas Mas Gola A Gong. Di Kota Mandar ada Nusa Pustaka, perahu perpustakaan yang dimotori jurnalis tangguh Bang Ridwan Mandar.

Termasuk di Kota Palembang, ada komunitas Roemah Baling yang baru saja menggenapi satu tahun perjalanan literasinya. Ada Sobat Literasi Jalanan dengan aktivitas positifnya yang terus digaungkan. Adapula @Forum Lingkar Pena (FLP) yang konsisten dengan program Reading On The Street (ROTS), serta komunitas lainnya. Penggemar buku sepertiku jelas bahagia untuk hal ini. Mari merayakan literasi bersama. Kemampuan membaca adalah rahmat, kegemaran membaca adalah kebahagiaan. Semuanya patut disyukuri.

Salam Literasi

Advertisements