Hari ketiga lebaran Idul Fitri 1439 H, suasana rumah Yai dan Nyai Wijaya dibuat heboh gara-gara kotoran kucing. Sembarangan betul si kucing buang air besar di teras rumah yang bermarmer cokelat muda licin. Baunya menyengat sampai ke dalam rumah. Bagaimana kalau tamu-tamu datang? Kan bisa malu satu keluarga.

Anak gadis pun turut tersulut emosi ketika mendapati seekor kucing bersembunyi di bawah kursi ruang makan. Sudah dipastikan, kucing inilah biang keladinya. Dengan suara melengking gadis berusaha mengusir kucing berbulu cokelat lebat itu dengan gertakan kaki. Tidak ada pertumpahan darah tentu saja. Tapi, Sempat terjadi kejar-kejaran di dalam rumah. Beruntung tidak ada barang yang terjatuh dari atas meja saat kucing nakal itu meloncat ke meja kerja Yai Wijaya di sudut ruangan. Lalu, ketika pintu dibuka lebar kucing pontang-panting melarikan diri.

“Kucingnya pakai kalung. Kucing peliharaan pembangkang tuh. Sudah ga betah di rumah tuannya mungkin!?” gadis berseloroh sembari membanting pintu. Gadis berharap jalur utama rumah bercat putih gading itu tidak lagi kecolongan hewan jenis apapun.

Nyai Wijaya hanya tersenyum saja. Ia tidak memasang muka masam. Tangannya sibuk menyusun cangkir-cangkir dan piring di dalam lemari, setelah sebelumnya dilap dengan kain kering dan bersih. Rumah Yai dan Nyai Wijaya memang selalu ramai dikunjungi, terutama di momen lebaran seperti ini. Menjamu tamu pun menjadi kesenangan bagi Nyai Wijaya. Masakan enak dan minuman segar akan disajikannya dengan riang ke hadapan para tamu. “Ibu bereskan yang di dalam rumah dulu, baru nanti membersihkan teras,”ujarnya kepada gadis yang melanjutkan mencuci piring sisa lainnya.

Tak berapa lama, Nyai Wijaya siap dengan selang air, sikat, dan sabun di tangan. Ia akan memulai membersihkan kotoran kucing di teras rumah. Tak perlu pakai sendal, sarung tangan, ataupun masker wajah. Wanita berusia 70 tahun itu dengan tenang menggeser kursi panjang berbahan kayu jati yang di bawahnya menjadi lokasi kucing buang air. Tak hanya di sana ternyata, Nyai Wijaya juga menemukan kotoran di samping rak sepatu yang berada tak jauh dari pintu masuk.

Selang air diarahkan Nyai Wijaya ke sasaran. Lalu ia berjalan ke ujung teras tempat jemuran pakaian. Di sana ada keran yang bisa disambungkan ke selang air. Tapi apa yang ia dapati. Keran itu tidak ada. Pipa yang menempel di dinding pagar tersebut sudah dipasang penutup drop plastik. Alias, keran airnya tidak ada. Nyai Wijaya yang tadinya tenang saja menjadi kaget dan sedikit geram. Ia lalu mencari Yai Wijaya untuk mempertanyakan dan meminta bantuan agar niatnya untuk membersihkan teras bisa cepat selesai. Yai Wijaya justru bertanya balik dengan nada tinggi. “Siapa yang merusak keran air di kamar mandi?”

Nyai Wijaya pun memahami, ternyata keran air di teras digunakan untuk mengganti keran air di kamar mandi yang rusak kemarin sore. Saat itu Nyai Wijaya baru selesai berwudhu dan hendak menutup keran air, tapi keran airnya lepas sampai air memuncrat ke sana kemari. Dengan panik Nyai Wijaya mencoba menempatkan keran air seperti semula, tapi meskipun sudah menempel seperti biasa air tetap menetes.

Akhirnya, pembersihan teras pun tanpa menggunakan selang air yang tersambung ke keran air teras. Nyai Wijaya dibantu gadis menyiram teras yang sudah disikat dan disabun dengan air dari ember besar. Sementara Yai Wijaya pergi ke toko bangunan untuk membeli keran air baru untuk pipa di teras rumah.

Model foto: Xena Aphrodite

***

 

Advertisements