“We never like our bos,” tulis Margareta Astaman dalam bukunya a fresh graduate boss. Menurutnya, sebaik apapun dan sebijak apapun, akan selalu ada momen ketidaksepahaman yang membuat kita sesaat membenci atasan. Tapi, kalau dibenci atasan? Margareta tidak menulis soal itu. Mungkin giliranku yang menuliskannya.

Menghadapi atasan yang perfeksionis memang butuh teknik khusus. Seekstrim apapun, sekacau apapun, ada satu teknik yang selalu diperlukan. Yakni penerimaan. Menerima kondisi sebagai junior yang bisa mentolerir perlakuan buruk selama masih menjadi rekan kerjanya. Setidaknya, jika suatu hari nanti diberikan kesempatan menjadi atasan, aku tahu bagaimana dia dianggap.

Bekerja di media memang penuh tekanan. Telah kupahami tentang itu sebelum memilih untuk bekerja di bidang ini. Risiko pilihan. Tapi, sungguh jadi guncangan hebat ketika seorang redaktur beberapa tahun silam meluapkan emosinya padaku meski cuma lewat tulisan dan sikap diam. Aku senang cara senior ini mengarahkanku dalam tulisan. “Nak, usahakan narasumber kedua diperbanyak datanya. Jangan cuma jadi tambahan,”sarannya suatu hari. Cara halus dalam menasihati itu sangat berbeda dengan yang dilakukan redaktur lain. Sampai akhirnya aku pindah wilayah liputan dan dialihkan ke redaktur lain. Jadi terkenang, dia memanggilku “Nak” dan aku memanggilnya “Om”, akrab.

Hingga suatu hari, dia seakan marah karena tulisanku dianggap tidak benar. Saat itu, dia menggantikan redaktur di desk-ku yang baru ini. “Feminin bukan feminim,”begitu pesan singkat yang kuterima sore itu dari senior ini. Sebuah koreksi atas pilihan diksi yang dianggapnya salah. Sempat kusampaikan ke rekan kerja lain. Menurut mereka itu hal baik darinya. Tapi menurutku menjadi sesuatu yang terlalu dipermasalahkan. Bukankah memperbaikinya menjadi tugas redaktur? Lagipula di kantor media itu ada tenaga editor bahasa.

Tak disangka, teguran itu berbuntut panjang. Kurasa karena posisi sang senior yang sedang mumet mengurus tiga halaman dalam satu waktu. Halaman yang menjadi tanggung jawabnya sendiri dan halamanku yang redakturnya sedang izin cuti. Ia mengirimkan pesan lainnya: “Anda suatu saat akan berada di posisi saya. Bayangkan bagaimana sibuknya mengurusi halaman,”tulisnya, “Menyulitkan orang lain sama saja dengan menyulitkan diri sendiri,”sambung dia. Kalimat yang terakhir itu bukan hanya ia sampaikan padaku secara pribadi. Tapi dituliskannya juga di status-status sosial media. Menunjukkan marahnya kepada semua orang. Terkejut dengan hal itu, aku terpukul, terguncang, down selama beberapa hari.

Kini, sejak kejadian itu berlalu sekian tahun baru kupahami bahwa sikapnya itu bukanlah masalahku. Apa yang dilakukannya sejak awal justru sebuah teguran membangun yang seharusnya kusyukuri. Aku sendiri mesti berjiwa besar untuk meminta maaf dan memaafkan. Cukup bersihkan hati dari prasangka. Betul saja, rasa sakit hati itu seketika hilang. Semangat baru untuk memperbaiki diri harus dimulai. Mestinya aku berterimakasih padanya, kan? 🙂

Advertisements