Manusia Speedboat

Angin kegirangan ketika speedboat, si kapal cepat, mulai membelah sungai. Mereka sudah bersekongkol untuk memainkan ombak setinggi-tingginya. Sampai penumpang di belakang memekik agar segera menutup jendela-jendela kapal. Cipratan air menjejak di kaca jendela.

Ada kalanya angin harus menunggu. Seperti sore itu, serang terpaksa melajukan speedboat dengan sangat lambat. Sungai sedang surut. Lihat saja tanah dan kaki-kaki pohon di pinggiran menampakkan belang sisa basah yang mengering. Debit berkurang, jika tidak berhati-hati kapal bisa oleng. Penumpang di depan membuka jendela dan jaketnya. Berpeluh.

Lagi-lagi angin mesti menunda bermain. Di tengah perjalanan serang mematikan mesin. Angin terdiam memperhatikan. Ternyata ada perahu tongkang melintang dan menghalangi jalur. Kapal besar itu seakan mengejek speedboat yang berukuran jauh lebih kecil darinya. Penumpang mulai gelisah. Ini bukan Musi yang lebar, hanya sungai kecil di tengah hutan.

Setelah cukup lama tidak ada perubahan situasi, serang menyalakan mesin. Speedboat mengerti tugasnya. Dengan berani ia mendorong tongkang besi sekuat tenaga ke arah pinggir. Angin bersorak memberi semangat. Penumpang cemas, “Bisa terbelah kayu lawan besi,”ujar seorang kawan. Namun usaha tidak sia-sia, tongkang yang mati mesin itu berhasil bergeser dan berubah posisi sehingga membuka jalur. Kegembiraan kembali hadir. Speedboat ingin cepat-cepat melaju. Dia tahu angin menanti untuk melanjutkan aksi.

pic: dok.pribadi/IG @yuliasavitri

 

Advertisements