Tjoa Tiong Gie atau Mulyadi Tjoa (51) menyambut ramah saat saya dan rekan-rekan berkunjung ke Rumah Kapitan di kawasan Kampung Kapitan Palembang, pertengahan Februari lalu.

Rumah Kapitan yang terbuat dari batu berdesain Eropa. Dok.pribadi

Laki-laki berparas tionghoa ini adalah penghuni Rumah Kapitan. Ia mengaku sedang mempersiapkan Rumah Kapitan untuk gelaran Festival Capgomeh 2019 yang digagas Pemerintah Kota dalam waktu dekat. Rumah Kapitan memang akan ditampilkan apa adanya selama festival, hanya perlu dibersihkan serta ditambah ornamen hiasan seperti lampion-lampion merah.

Tidak heran jika Rumah Kapitan menjadi lokasi festival yang diagendakan pemerintah daerah. Rumah berusia 400 tahun tersebut diakui sebagai bangunan sejarah pertama warga Tionghoa di kota ini. Konon digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus kantor dagang yang dipimpin seorang kapten (kapitan) utusan Dinasti Ming. Lokasi persisnya di tepi Sungai Musi, tak jauh dari Jembatan Ampera.

Jembatan Ampera terlihat dari teras Rumah Kapitan. Dok. pribadi

Secara administratif Rumah Kapitan berada di Jl. KH. Azhari Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang. Untuk menuju ke sana bisa melalui jalur darat atau jalur sungai. Menurut Mulyadi, rumah ini setiap tahunnya memang selalu ramai dikunjungi di momen puncak Capgomeh, sama halnya dengan Pulau Kemaro yang berada di delta Sungai Musi.

Rumah Kapitan yang terbuat dari kayu dengan desain gaya melayu – tionghoa. Dok.pribadi

Rumah Kapitan terdiri dari rumah kayu dan rumah batu yang berdampingan dan dihubungkan dengan selasar. Keduanya berdesain rumah panggung dengan tangga di depan teras layaknya rumah pinggir Sungai Musi lainnya. Bedanya, desain rumah kayu perpaduan gaya melayu dan tiongkok. Adapun rumah batu bergaya Eropa lengkap dengan pilar-pilar dan jendela besar.

Selasar yang menjadi penyambung teras dua Rumah Kapitan. Dok.pribadi

Sembari mengajak berkeliling rumah, Mulyadi berkisah tentang diangkatnya perwira Tiongkok berpangkat mayor oleh Kolonial Belanda untuk mengatur wilayah 7 Ulu. Jabatan itu diwariskan turun temurun hingga ke kapitan terakhir, Tjoa Ham Liem, di tahun 1855. Mulyadi sendiri merupakan generasi ke-14 Kapitan Tjoa. Ia menunjukkan nama-nama leluhur tercatat di sejumlah sinci (papan arwah) berbahan kayu yang bertuliskan huruf Tiongkok kuno. Sinci itu tersusun rapi di atas meja altar rumah utama.

“Saya diminta mendiang bapak untuk menjaga dua rumah ini. Padahal, saya sudah merantau ke Jakarta sejak 1972. Bapak bilang, kakek buyut Kong Tjoa yang meminta melalui mimpi,”tutur Mulyadi.

Altar, foto, dan perabotan kuno di rumah kayu. Dok.pribadi

Dari pantauan, bangunan rumah dalam kondisi kurang terurus. Perabotan kuno di rumah batu sebagai rumah utama hanya ada meja abu, altar sembayang, dan beberapa foto. Bagian belakang rumah tersisa dinding lapuk, dengan atap dan fisik bangunan yang sudah ambruk dimakan usia. Begitu juga dengan rumah kayu yang menjadi rumah tinggal Mulyadi dan keluarga adiknya. Rumah ketiga bahkan sudah dirobohkan dan lahannya sedang dalam pembangunan rumah ibadah.

Altar, Foto, dan perabotan kuno di tengah rumah batu. Dok.pribadi

Mulyadi mengingat, perbaikan rumah pernah ia lakukan dengan dana pribadi saat pulang kampung tahun 2004 sesuai permintaan orangtua. Perbaikannya menyangkut hal kecil saja seperti mengganti lantai kayu yang rusak, mengecat ulang dinding, dan membersihkan perabotan. Untuk perbaikan dinding, atap, dan bagian besar lainnya dia mengaku tidak mampu dengan dana sendiri.

Tercatat, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata kala itu (tahun 2010) memberikan dana Rp200juta melalui program PNPM Mandiri Pariwisata untuk pembangunan sarana dan prasarana kawasan. Dana itu digunakan untuk membuat menarik Rumah Kapitan agar layak dikunjungi. Menurutnya pernah ada juga bantuan dari pemerintah kota, tapi itu hanya menata taman dan jalan menuju rumah. Sebab saat itu sudah ditetapkan sebagai destinasi baru wisata budaya.

Suasana Rumah Kapitan saat ini. Dok.pribadi

Mulyadi bersikukuh tidak akan menjual warisan leluhurnya tersebut meskipun ada tawaran dengan nilai besar. Mengingat pula Kampung Kapitan sudah diteliti dan diakui sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Hanya saja hingga kini surat mengenai Cagar Budaya Indonesia itu belum ia terima. Tidak heran jika bantuan pemerintah secara resmi yang ia harapkan tidak kunjung datang.

Sudah dua tahun ini Rumah Kapitan dijadikan lokasi Festival Capgomeh oleh Pemerintah Kota. Bagi Mulyadi ada untung dan ruginya bagi keluarga atas penyelenggaraan festival di Rumah Kapitan. Mereka yang tertarik pada sejarah budaya akan datang berkunjung. Paling tidak, informasi rumah ratusan tahun yang mesti dirawat itu tersebar luas.

“Kami sebenarnya hanya berharap bisa menerima surat resmi jika memang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, minimal dapat bantuan. Sebab dana perawatan perbaikan hanya pakai dana pribadi dan sumbangan sukarela dari pengunjung. Festival tidak dapat apa-apa,”kata Mulyadi.

Saya dan rekan-rekan mendengarkan dengan serius penjelasan Mulyadi Tjoa. Dok.pribadi

Begitu menyenangkan duduk bersama di teras rumah batu mendengarkan semua cerita Mulyadi. Kuyakini, menjaga cagar budaya seperti Rumah Kapitan memang cukup berat jika tanpa kepedulian banyak pihak. Apalagi rumah ini dikenal berada di kawasan Kampung Kapitan yang patut tercatat sebagai aset nasional. Yakni aset bukti harmonisnya warga yang hidup dalam keberagaman budaya di Palembang. Tenggelamnya matahari mengakhiri pertemuan kami  dengan Mulyadi hari itu. ()

Yuk, ikut berkisah tentang Cagar Budaya Indonesia. Caranya ikut berpartisipasi pada kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”.