Wonderful Indonesia: Uniknya Kerajinan Khas Raja Ampat

Saya terkagum-kagum jika melihat eksotisnya wisata laut Raja Ampat dari televisi maupun internet. Pemandangan lautnya yang menakjubkan sangat pantas jika Raja Ampat menjadi destinasi wisata pilihan dunia. Jadi pengen ke sana.

IMG_7152

Indahnya alam Raja Ampat_Indonesia.travel

Rasa penasaran itu sedikit terobati ketika melihat secara langsung hasil kerajinan tangan khas Raja Ampat yang dipamerkan di South Sumatera Expo 2014 di Palembang, Mei lalu. Masyarakat Raja Ampat ternyata memanfaatkan dengan baik kekayaan alam daerahnya untuk dijadikan barang-barang unik. Continue reading

Advertisements

Pesan Ramadhan

ramadan-kareem-wallpapers-20

Ada beberapa agenda besar yang menjadi pusat perhatian semua kalangan selama bulan puasa di tahun 2014. Diantaranya adalah Piala Dunia di Brazil dan Pemilihan Presiden 9 Juli. Percaya atau tidak, agenda-agenda ini cukup mempengaruhi perjalanan muslim dalam menunaikan ibadah puasanya. Continue reading

Kenapa Golput?

Seorang teman sangat pesimis dengan pileg dan pilpres tahun ini. Dia yakin, keadaan tidak akan berubah bila jarinya bertinta biru. “Bakal masih cak lamo tu la,”tukas dia dengan logat Palembang.

Lantas, siapa yang bisa mengubah keadaan menurut dia? Tidak ada kecuali Iwan Fals. Dia ingin penyanyi lagu ‘Bento’ itu jadi calon presiden! Bukan main-main dia menyatakan itu. Saya yakin ada dasar kekecewaan pada kinerja para wakil rakyat dalam argumennya.

Benarlah apa yang dituliskan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwon dalam tulisan kolomnya di Koran Sindo pada Minggu (13/4). Dia menegaskan, bangsa ini memerlukan manusia setengah dewa seperti lagunya Iwan Fals. Wakil rakyat yang dicari itu mesti berakhlak dan bermoral tinggi sehingga dia berani menegakkan peraturan, berani melawan siapa saja yang melanggar peraturan, termasuk yang mengatasnamakan akhlak dan moral itu sendiri.

Tapi menurutku, kalau tidak memilih sama sekali seperti yang temanku lakukan, justru sosok yang dicari tidak akan pernah ketemu. Terlepas buruknya elektabilitas partai yang diusung, kalau pilihan sosok yang ada memang bervisi jelas dan baik untuk masa depan, why not? Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

“Haha… terserah, pastinya aku bersyukur tidak harus ikut bertanggung jawab pada rusaknya negara ini,”tandas dia.

Hhmm… angkat tangan deh.

 

 

Ini Event Kolektif Komunitas

Apa jadinya kalau komunitas-komunitas independen bergabung dalam satu gelaran acara? Menarik, tentu saja. Semenarik Festival Taman Kota yang dilaksanakan di Taman Kampus Palembang, Minggu (30/3) lalu.

Ya, taman yang berlokasi tepat di depan gedung TVRI Palembang (Jalan POM IX) mendadak ramai didatangi anak-anak muda di kotaku pada Minggu sore itu. Tidak heran, di sana ada lapak baca gratis, pameran karya seni rupa, dan foto monografi. Mereka yang datang disuguhi panggung puisi, musik akustik, teater, dan pemutaran film. Tidak hanya itu, digelar juga kegiatan belajar bersama anak-anak, jam strip komik, diskusi sastra, dan workshop zine Bahkan, ada makan dan minum gratis, sharing menu, demo masak, serta kegembiraan gathering antar komunitas membuat event ini makin semarak.

Suasana Festival Taman Kota Palembang

Suasana Festival Taman Kota Palembang

Layaknya piknik di tengah kota, festival yang pertama kalinya digelar ini bisa menjadi alternatif hiburan para kaum urban. Terutama dalam mengisi akhir pekan dan melepas penat dari kesibukan harian. Siapa saja bisa hadir untuk membaca, menyanyi, menggambar, menonton, atau lainnya sesuai minat. Tidak sedikit dari mereka yang datang, mengabadikan diri di spot-spot menarik di lokasi festival.

35 foto monografi dipamerkan

“Di sini, kami pamerkan 35 karya foto monografi bertema lingkungan. Semoga bisa menginspirasi yang lain,”kata Mochammad Ali, salah satu anggota Palembang Monography.

plbg-festival taman kota 5_mushaful imam(musi life)

suasana nobar film pendek

Event yang digelar mulai pukul 13.00 – 21.00 wib ini digagas bersama oleh komunitas-komunitas di Palembang. Diantaranya Komunitas Halte Sastra (sastra), Bangku Merah (film), Ink Studio (komik), Teater Bingkai (Bingkai), Ruang Bebas Baca (literasi), Sangkakalam (penerbitan alternatif), Bingkai Bangkai (kolase), Spektakel (musik), Palembang Monography (fotografi), dan Urban Piknik.

plbg-festival taman kota_mushaful imam(musi life)

bebas baca dan diskusi sastra

Setiap komunitas bahkan membuat poster bertajuk Festival Taman Kota dengan gaya khas masing-masing. Meski tanpa support pemerintah, event kolektif ini meriah sesuai harapan. Ewin, temanku, menegaskan di sini tidak ada panitia penyelenggaran, semua komunitas yang terlibat bergerak untuk menyukseskannya bersama. Jadi, salah besar kalau ada lembaga tertentu yang mendeklarasikan diri sebagai penyelenggara. Hmm… menarik, kan?

Foto by: kak shaful

 

Ini Tentang Idealisme

Terkadang aku menemukan idealisme yang ditertawakan. Banyak sikap intoleransi yang menjadi akibatnya. Tidak sedikit pula kutemukan mereka yang akhirnya beralih dari idealisme tersebut. Tak ada pertahanan sama sekali. Continue reading

Ini Trip ke Kediri

Liburan mungkin cara yang paling tepat untuk refreshing dari rutinitas harian. Beruntung, beberapa teman kos saat di Bandung dulu saling kontak dan menawarkan liburan seru bareng mereka. Kebetulan mereka mendapatkan diskon akhir tahun untuk tiket kereta. Tak perlu pikir panjang, segera kuisi kertas cuti kantor untuk beberapa hari dan minta izin ke orang tua untuk berangkat.

Liburan ke Bandung?
Bukan, Bandung cuma jadi lokasi kami untuk berkumpul. Sebab, tempat tinggal mereka semua juga bukan di Bandung, satu dari Bekasi, Cirebon, dan Kediri. Sementara aku domisili Palembang. Kami janji ketemu di stasiun Bandung untuk berangkat ke Kediri dengan kereta. Mencoba pengalaman jadi backpacker.

Untuk menuju Bandung tentu aku harus menyeberang pulau. Tapi, sayang tiket yang murah dan waktu yang tepat saat itu hanya menuju Jakarta. Kalau aku naik bus atau kapal, tentu butuh waktu yang lebih lama. Tak masalah, dari bandara Soekarno Hatta aku bisa lanjut ke Bandung dengan bus. Menurutku, ini baru petualangan menggunakan moda transportasi yang terintegrasi, pesawat-bus-motor-kereta. Motor? Hha…dari pool bus ke stasiun naik ojek karena kondisi sore Bandung macetnya luar biasa.

Ajang Reuni

Aku tiba di Stasiun Bandung tepat setengah jam sebelum jadwal keberangkatan. Teman-teman sudah ada di sana. Mereka ini tidak banyak perubahan, hanya Teh Fenti yang semakin cantik karena sudah memakai hijab. Sembari menunggu kereta tujuan Kediri yang tengah bersiap-siap, kami bercengkerama dan foto-foto di dekat rel.

Ya, mereka sudah seperti saudara karena pernah satu atap di kosan Ibu Iyam di Kalapa Bandung. Kenapa jadi anak kos Bandung? Saat itu, aku masih tercatat sebagai mahasiswi akhir di Unpad yang nyambil jadi freelance editor di media yang berkantor di Bandung, dan sibuk mengikuti pendidikan bahasa arab di Ma’had Imarat. Karena jadwal di Imarat pagi buta, kuputuskan untuk mencari kosan di seputaran lembaga tersebut, biar tidak sering terlambat. Kosan Ibu Iyam pilihannya. Banyak kejadian yang kualami di rumah kosan bergaya belanda itu. Rumah besar tua yang hanya ditunggu seorang ibu paruh baya. Kamarnya banyak dan berlorong gelap.

Oke, balik ke trip di stasiun. Sembilan jam perjalanan Bandung- Kediri yang kami tempuh. Subhanallah, dua provinsi kulewati begitu saja; Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hei, itu Stasiun Balapan yang terkenal itu. Whuaa… ada yang jual pecel di stasiun pada tengah malam?! Banyak hal berkesan yang kutemui.

Tiba di stasiun Kediri pukul 04.00 wib pagi. Mbak Luthfi sudah menunggu kami dengan mobil menuju rumah keluarganya. Beruntungnya kami, bisa traveling dengan serba gratis begitu. Dijamin, istirahat, mandi, dan makan bakal tersedia tanpa perlu mengeluarkan biaya lebih banyak.

Rumah temanku ini di Desa Brenggolo, Plosoklaten Kabupaten Kediri. Daerahnya masih alami dan sangat asri. Posisi rumahnya kebetulan dekat pasar. Jadi, pagi-pagi itu, kami bisa melihat-lihat apa saja yang khas dari desa ini, mulai dari domba sampai jajanan pasarnya. Jajanan yang kusuka yaitu jenang, harganya cuma Rp2000, enak. Aku juga berkenalan dengan ungkusan atau botok dengan isi sembuan. Ini sejenis tanaman merambat yang dibumbui kelapa muda, bawang putih, dan kencur. Disebut ungkusan karena ia dibalut daun. Harganya juga Rp2000. Benar-benar jajanan pasar yang sehat.

Legenda Penolakan Cinta
Di Kediri, kami diajak berwisata ke Gunung Kelud. Di sini, disuguhkan pemandangan tiga puncak gunungnya. Ada pula tebing vertikal yang cocok untuk mereka yang suka panjat tebing. Tidak curam tapi cukup menantang.

Pemandangan Anak Gunung Kelud Nan Cantik

Pemandangan Anak Gunung Kelud Nan Cantik

Yang terkenal dari gunung ini adalah kawahnya yang mendadak mengeluarkan anak gunung. Continue reading

ASUS Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon

Trip ke Pagaralam Jadi Menyenangkan

Keinginan untuk refreshing di kawasan perbukitan akhirnya terbayar saat teman-teman jurnalis mengajak traveling ke Pagaralam, Sumsel. Di hari kerja? Why not!

Berpose di kaki Gunung Dempo Pagaralam, Sumsel

Berpose di kaki Gunung Dempo Pagaralam, Sumsel

Kami sepakat berangkat pada Jumat siang dan pulang Minggu sore. Dengan begitu, kewajiban liputan, mengirim berita, dan koordinasi redaksi tetap bisa dilakukan meski dari jarak jauh. Ya, Jumat paginya aku masih liputan. Cukup ribet karena membawa perlengkapan trip.

Kami menikmati perjalanan meski tetap sibuk menulis untuk dikirimkan ke kantor masing-masing. Tentu saja perjalanan tetap menyenangkan dan pekerjaan bisa beres kalau perangkat komunikasi yang ada bisa terhubung ke Internet. Sayangnya, di Indonesia konektivitas WiFi memang belum terlalu luas, Continue reading